26 Juni 2014

Ulang tahun Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ke-63: Bidan terus menerus meningkatkan profesinya untuk generasi yang berkualitas

IBI dan PT Bayer Indonesia adakan roadshow ‘Pemantapan Program Bidan Delima” 2014

Ikatan Bidan Indonesia pada hari ini memperingati hari ulang tahunnya yang ke-63 dan menandainya dengan penguatan komitmen untuk selalu meningkatkan profesi bidan demi terciptanyagenerasi yang berkualitas. Salah satu program yang dilakukan IBI adalah mengadakan kerja sama dengan PT Bayer Indonesia untuk menggelar Roadshow Pemantapan Program Bidan Delima serta Revitalisasi Program KB 2014.


Sebagai tenaga kesehatan profesional, bidan memegang peranan yang sangat penting karena lebih kurang 63 persen dari 4,6 juta kelahiran per tahun di Indonesia ditangani oleh bidan.1 Selain itu 76,6 persen pelayanan KB juga dilakukan oleh bidan.


Dr.Emi Nurjasmi,M.Kes, Ketua Umum PP IBI pada Press Conference hari ini mengatakan, “Sebagai organisasi profesi bidan yang membawahi 225.000 lebih bidan di Indonesia, IBI selalu berpijak pada visi misinya yaitu mewujudkan bidan profesional berstandar global. Bidan sebagai tenaga kesehatan profesional, bekerja sebagai mitra masyarakat, khususnya keluarga sebagai unit terkecilnya. Bidan sebagai garda depan memiliki posisi strategis untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat holistik komprehensif yaitu yang berkesinambungan, terpadu dan paripurna, mencakup upaya promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif dalam upaya mencapai terwujudnya derajat kesehatan ibu dan anak yang optimal.”


“Revitalisasi Program KB merupakan pokok penting yang sangat kami dukung. Untuk itu, kami secara berkesinambungan mengadakan berbagai kegiatan sosialisasi dan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan dan keahlian para bidan dalam Program KB melalui Roadshow Program Bidan Delima berupa seminar. Dengan kegiatan ini, kami berharap kualitas layanan Bidan Delima dapat menjadi standar kualitas pelayanan bagi Bidan Praktik Mandiri di Indonesia. Di samping itu, dalam rangkaian ulang tahun ini, kami juga menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti roadshow media ke Lamongan, Jawa Timur pada tanggal 10 Mei serta pada tanggal 23 Mei Bakti Sosial yang dilakukan di kantor IBI Jakarta. Kami menyerukan
kepada semua anggota IBI untuk selalu meningkatkan kemampuannya agar dapat memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat.”


Roadshow tahun ini merupakan yang kedua kalinya diselenggarakan dan tahun ini sebanyak 16 provinsi (40 kabupaten/kota) dipilih menjadi daerah tujuan kegiatan tersebut. IBI memprogramkan setiap kabupaten/kota tujuan dapat mengumpulkan sekitar 2000 orang fasilitator dan bidan delima pada bulan Maret-Juni 2014.


Program Bidan Delima merupkan sistem/ mekanisme dari IBI untuk menstandarisasi kompetensi dan klinik guna peningkatan kualitas pelayanan kebidanan bagi Bidan Praktek Mandiri (BPM) dengan penekanan melalui monitoring & evaluasi serta pelatihan berkesinambungan. Sasaran program Bidan Delima adalah Bidan Praktik Mandiri (BPM) yang memiliki SIPB masih berlaku, dan telah berpendidikan Diploma 3 pada tahun 2015.


Ashraf Al-Ouf, Senior Bayer Representative Bayer di Indonesia mengemukakan, “Lebih dari 30 tahun Bayer Indonesia, melalui salah satu divisinya, yaitu Bayer HealthCare Pharmaceutical bekerjasama dengan berbagai organisasi kesehatan termasuk di dalamnya IBI untuk mendukung program Keluarga Berencana (KB) nasional. Sejak tahun 2013 kami bekerja sama dengan IBI dalam Pemantapan Program Bidan Delima.

Kami akan terus mendukung kegiatan IBI khususnya dan pemerintah Republik Indonesia dalam menekan laju pertumbuhan penduduk pada umumnya dalam KB mandiri sehingga perempuan di seluruh Indonesia mampu merencanakan keluarga mereka untuk terciptanya generasi yang berkualitas. Bayer Indonesia menyediakan berbagai macam pilihan kontrasepsi baik jangka panjang maupun jangka pendek”.


Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 memperlihatkan capaian program KB belum memuaskan dan ini terlihat dari angka kelahiran total (Total Fertility Rate/TFR) berada di angka 2,6
sejak tahun 2002. Total Fertility Rate (TFR) dapat diturunkan dengan beberapa langkah antara lain
meningkatkan cakupan CPR, menurunkan angka Unmet-need (kelahiran yang tidak diinginkan),
meningkatkan KB-MKJP, menurunkan tingkat putus pakai kontrasepsi (dropout).


Oleh karena itu pada kesempatan yang sama, Kepala BKKBN, Prof.dr.Fasli Jalal, Ph.D, SpGK mengatakan,
“Diperlukan upaya yang keras dari semua pihak guna mencapai keberhasilan MDG’s 2015 dalam program
kependudukan dan keluarga berencana. BKKBN memerlukan dukungan dari berbagai elemen masyarakat,
salah satunya IBI untuk mewujudkan visi BKKBN, yaitu Penduduk Tumbuh Seimbang 2015, yang artinya
mewujudkan pertumbuhan penduduk yang seimbang dan keluarga berkualitas dengan ditandai dengan
menurunnya angka fertilitas (TFR) menjadi 2,1 dan Net Reproductive Rate (NRR) =1.5 Di samping itu,
Indonesia untuk kebutuhan pelayanan KB yang tidak terpenuhi tahun 2012 tercatat masih tinggi yaitu
11,4. Kami berterima kasih atas dukungan bidan yang tersebar di seluruh Indonesia yang dengan gigih
mendukung revitalisasi KB di tanah air.”


Diakhir penjelasannya Kepala BKKBN mengatakan “BKKBN dalam strateginya untuk meningkatan
aksesibilitas layanan KB dengan memperluas jangkauan Fasilitas Kesehatan (Faskes) KB, ketersediaan
tenaga kesehatan terampil melayani KB dan kemudahan memperoleh layanan KB (yang diinginkan).
Diharapkan setiap Faskes memiliki sertifikat keterampilan pelayanan KB yang diberikan oleh BKKBN
bekerjasama dengan organisasi profesi (IDI dan IBI).”