29 Oktober 2014

Regorafenib : Harapan Baru dalam Pengobatan Kanker Kolorektal Stadium Lanjut

PT Bayer Indonesia, Bayer HealthCare Pharmaceuticals secara resmi meluncurkan Regorafenib di Indonesia sebagai terobosan pengobatan terbaru untuk pasien kanker kolorektal stadium lanjut dalam forum edukasi media di Jakarta pada hari ini.

PT Bayer Indonesia, Bayer HealthCare Pharmaceuticals secara resmi meluncurkan Regorafenibdi Indonesia sebagai terobosan pengobatan terbaru untuk pasien kanker kolorektal stadium lanjut dalam forum edukasi media di Jakarta pada hari ini.

 

Regorafenib merupakan satu-satunya pengobatan oral untuk kanker kolorektal bagi stadium lanjut yang sudah refrakter dengan pengobatan standar dan terapi target yang bekerja menghambat beberapa target kinase. Di samping itu, Regorafenib memungkinkan untuk dilakukan terapi oral tunggal.

 

Menurut data World Health Organization (WHO), kanker kolorektal menempati posisi ke tiga (lebih dari 940.000 kasus) setelah kanker paru (1,2 juta kasus baru pertahun) dan kanker payudara (1 juta kasus).

 

Di Indonesia, kanker kolorektal juga menempati urutan kanker nomor tiga paling banyak ditemui setelah kanker payudara dan paru. Kanker kolorektal adalah kanker yang berasal dari sel-sel di usus besar dan rektum, dimana insidennya banyak dijumpai di negara-negara berkembang, menurut Jemal A et al. CA Cancer J Clin 2011;61:69–90. Menurut data tahun 2012, terdapat 27.600 insiden kanker kolorektal di Indonesia.

 

Sementara di area Jakarta, hasil data dari Jakarta Cancer tahun 2005-2007 menunjukkan bahwa kanker kolorektal menempati urutan ke 4 (3,15 per 100.000) setelah kanker kanker payudara (insiden 18,6 per 100.000), kanker serviks (9,25 per 100.000), dan kanker ovarium (4,27 per 100.000) pada wanita.

 

Dalam acara diskusi dengan media hari ini, Ashraf Al-Ouf, Presiden Direktur PT Bayer Indonesia mengatakan,“ Sesuai dengan misi Bayer yaitu ilmu pengetahuan untuk kehidupan yang lebih baik, setiap produk yang dihasilkan Bayer selalu beriorientasi pada inovasi dan kualitas hidup manusia. Ashraf Al-Ouf menambahkan bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah memberikan ijin dan persetujuan atas penggunaan Regorafenib untuk terapi pasien dengan mCRC (metastatic Colorectal Cancer / metastasis kanker kolorektal) pada tahun 2012. Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memberikan ijin edar pada 16 Oktober 2014. Regorafenibmempunyai beberapa keunggulan yaitu sebagai penghambat multi-kinase yang pertama dan satu-satunya yang terbukti dapat mengendalikan penyakit, berbentuk dalam sediaan oral dengan dosis yang dapat disesuaikan, dan dipergunakan sebagai pengobatan di lini ke-3 untuk kanker kolorektal dan memiliki tingkat kontrol terhadap penyakitnya hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan plasebo.

 

Sementara itu Prof. Dr. dr. Arry Harryanto, SpPD KHOM menjelaskan, “Kanker pada manusia lebih banyak disebabkan oleh akumulasi dari mutasi genetik pada manusia ketika terjadi proses pembelahan sel (Oncogenesis). Sel kanker dapat terbentuk dengan adanya dukungan terhadap  Oncogenesis, Tumor Microenvironment, dan Angiogenesis. Saat ini salah satu terapi kanker yang sangat berkembang adalah terapi target, dimana penghambat kinase merupakan kelas terbesar yang diteliti. Banyak penghambat kinase hanya bekerja pada 1 target. Tetapi kanker masih dapat meloloskan diri dengan hanya 1 penghambat kinase, salah satunya dengan cara mengaktifkan kinase pengganti dari kinase yang menjadi target obat atau mengaktifkan mutasi di bagian bawah jalur obat. Sehingga bisa terjadi resistensi terhadap obat penghambat kinase-nya.”

 

“Untuk kanker kolorektal dikenal 5 stadium tingkat keganasan kanker tersebut, mulai dari Stadium 0 dimana sel-sel kanker baru ditemukan hanya di lapisan terdalam kolon atau rektum hingga stadium IV dimana sel-sel kanker tersebut sudah menyebar ke organ-organ tubuh lainnya, ” lanjut Prof. Arry.

 

Kanker yang banyak dijumpai di usia lebih dari 50 tahun ke atas ini umumnya berkaitan dengan berbagai faktor, antara lain usia (9 dari 10 pasien berusia lebih dari 50 tahun), kelainan genetik, riwayat keluarga (20 % penderita kanker kolorektal memiliki riwayat keluarga dengan insiden kanker kolorektal juga), polip dan penderita diabetes tipe 2. Sementara itu faktor obesitas, merokok, pola makan (pola makan daging merah meningkatkan risiko 3x lipat pada laki-laki) dan minum-minuman keras juga berkontribusi pada meningkatnya faktor risiko. 

 

Gejala kanker kolorektal umumnya beragam, selain memperhatikan faktor risiko gejala yang dapat dikenali,  terbagi antara gejala non-gastrointestinal dan gastrointestinal. Gejala non-gastroinstestinal antara lain kelelahan, anemia, palpitasi, selera makan menurun, berat badan turun, warna kulit memudar dan terjadi penyumbatan darah. Sementara gejala gastrointestinal antara lain terlihat dari adanya ulserasi, perionitis, perubahan pola BAB, nyeri pada abdomen dan ditemukannya darah di feses.

 

Sementara itu, rasio kesintasan (survival rate) dari penderita kanker kolorektal sangat tergantung dari tingkatan stadium kanker tersebut terdiagnosa. Bila terdiagnosa di stadium awal, tingkat harapan hidup penderita kanker kolorektal cukup menggembirakan. Bahkan 6 % dari penderita yang terdiagnosa di stadium 4 bertahan hingga 5 tahun.

 

Prof. Dr. Abdul Muthalib,SpPD-KHOM, mengatakan bahwa, “Rata-rata survival rate 5 tahun untuk pasien yang terdiagnosa di stadium awal mencapai 74 % dengan perawatan yang tepat. Berdasarkan panduan European Society For Medical Oncology (ESMO) dan National Comprehensive Cancer Network (NCCN), apabila pengobatan pada lini 1 dan 2 tidak berhasil dengan baik maka pada pasien dengan kanker kolorektal stadium lanjut akan dilakukan terapi paliatif termasuk terapi target, pemberian obat atau substansi yang dapat menghambat pertumbuhan dan penyebaran kanker dengan cara menghambat molekul spesifik yang terlibat dalam pertumbuhan dan perkembangan tumor. Berdasarkan penelitian CORRECT (singkatan dari Colorectal cancer treated with regorafenib or placebo after failure of standard therapy), Regorafenib yang merupakan pengobatan terbaru untuk pasien kanker kolorektal terbukti mampu menekan risiko  kematian sebanyak 23 %.  Regorafenib memiliki molekul yang dapat menghambat pertumbuhan sel kanker VEGF, PDGF, TIE, KIT, RET, RAF dan BRAF. Di samping itu, dalam penelitian CONCUR  (an international*, randomized, double-blind, placebo-controlled phase III study of regorafenib plus best supportive care (BSC) versus placebo plus BSC in Asian patients with mCRC who have progressed after standard therapy) dimana penelitian Regorafenib terapi oral tunggal yang dilakukan pada populasi Asia tersebut menunjukkan bahwa risiko kematian dapat dikurangi sebanyak 45 %. Tujuan pengobatan ini adalah untuk meningkatkan kelangsungan-hidup sambil mempertahankan kualitas hidup sebaik mungkin”.

 

Prof. Muthalib lebih jauh menambahkan, “Untuk metastase kanker kolorektal yang tidak responsif terhadap terapi standar, terapi target dengan Regorafenib dapat diberikan. Dan mengingat pengobatan kanker yang membutuhkan biaya tidak sedikit, peranan pemerintah sangatlah penting khususnya dalam era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) ini.”