18 November 2019

Pria Usia 40 tahun ke atas, Waspadai Kekurangan Hormon Testosteron

  • Adanya hubungan sebab akibat antara kekurangan hormon testosteron dengan sindrom metabolik (Diabetes Melitus Tipe II, Hipertensi, Kadar Lemak Darah dan Obesitas).
  • Pemberian terapi sulih hormon testosteron bermanfaat dalam memotong rantai hubungan tersebut.

Jakarta, 19 November 2019

PT Bayer Indonesia sebagai perusahaan global berbasis Life Science berkomitmen untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait kesehatan. Dalam kesempatan Men’s International Day, Bayer menghadirkan narasumber Dr. Nugroho Setiawan, MS, Sp.And, Dokter spesialis bidang Andrologi untuk memberikan informasi mengenai hubungan antara kekurangan hormon testosteron dengan sindrom metabolik serta manfaat terapi sulih hormon testosteron untuk memutus rantai hubungan tersebut.

 

Data dari sebuah studi menunjukkan bahwa terdapat 38,7% pria dengan usia di atas 45 tahun memiliki kadar testosteron kurang dari kadar normalnya yaitu, kurang dari 300 nanogram/desiliter (ng/dL)1.

 

Pada kesempatan ini, Dr. Nugroho Setiawan, MS, Sp.And mengungkapkan, “Kekurangan hormon testosteron banyak terjadi pada pria usia 40 tahun ke atas. Dimulai dari usia 30 tahun akan terjadi penurunan hormon testosteron seiring bertambahnya usia yang mengakibatkan terjadi penurunan kadar hormon testosteron dalam tubuh seorang pria. Penurunan ini sekitar 2 – 3% per tahun. Maka di usia 40 tahun kadar testosteron menjadi sekitar 65 – 70% dan pada usia 60 tahun ke atas sekitar 45 – 50% dari usia 25 tahun.”

 

Banyak pria yang mengalami kekurangan hormon testosteron tidak menyadari penyakitnya. Menurut Dr. Nugroho deteksi awal kekurangan hormon testosteron dapat dilakukan dengan memperhatikan gejala yang dialami. Berdasarkan ADAM questionnaire, pria harus waspada terhadap gejala berikut ini :

  1. Penurunan dorongan seksual akhir – akhir ini
  2. Lemas / kurang tenaga
  3. Daya tahan / kekuatan fisik menurun
  4. Tinggi badan berkurang
  5. Kenikmatan hidup menurun
  6. Mudah kesal / marah
  7. Disfungsi ereksi
  8. Penurunan kemampuan olahraga
  9. Sering mengantuk / tertidur sesudah makan malam
  10. Penurunan prestasi kerja

 

Jika pria mengalami gejala No.1 atau No.7 atau tiga gejala lain, pria tersebut mungkin kekurangan hormon testosteron.2

 

“Pria yang mengalami gejala – gejala kekurangan hormon testosteron harus segera berkonsultasi dan memeriksa kadar testosteronnya untuk mendapatkan terapi sulih hormon sehingga kualitas hidup juga menjadi lebih baik,” kata Dr. Nugroho.

 

Dr. Nugroho menjelaskan, ”Tujuan terapi sulih hormon testosteron adalah untuk mengembalikan kadar testosteron ke tingkat normal. Penelitian membuktikan bahwa terapi sulih hormon testosteron dapat memperbaiki setiap komponen sindrom metabolik 3-4. Banyak pasien yang saya berikan injeksi testosteron jangka panjang mengalami penurunan lingkar pinggang, penurunan berat badan, perbaikan gula darah, serta perbaikan lemak darah.“

 

Rendahnya hormon testosteron dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, termasuk gangguan psikologis, gangguan metabolik, gangguan kardiovaskular, gangguan seksual, permasalahan fisik, serta risiko kematian yang lebih tinggi.5-10

 

Dr. Nugroho mengingatkan pemberian testosteron adalah tanggung jawab Dokter. Tentunya Dokter akan memilih obat resmi yang telah disetujui Badan POM, memiliki efektivitas tinggi, efek samping yang ringan, pemberiannya nyaman untuk pasien dan tidak mempunyai kontra-indikasi.

 

“Injeksi Testosterone Undecanoate jangka panjang biasanya dipilih karena berdasarkan penilitian yang dilakukan tahun 2015 oleh Carruthers M, Cathcart P, Feneley MR - yang menunjukkan tingkat keberhasilan terapi sampai 82%, sedangkan keberhasilan dengan penggunaan obat minum hanya mencapai 41%11. Pemberian Injeksi Testosterone Undecanoate jangka panjang juga lebih aman terhadap hati karena tidak masuk ke dalam aliran darah”, tambah Dr. Nugroho.

 

-    SELESAI --

 

Referensi :

  1. Baltimore Longitudinal Study of Aging
  2. Morley JE et al. Metabolism. 2000;49(9):1239–42
  3. www.nhlbi.nih.gov/health/health-topics/topics/ms
  4. Maganty A, Shoag JE, Ramasamy R. Testosterone threshold - does one size fit all? The aging male: the official journal of the International Society for the Study of the Aging Male. 2015;18(1):1-4.
  5. Dohle GR et al. EAU guidelines on male hypogonadism. 2017.
  6. Mulligan T, et al. Int J Clin Pract 2006;60(7):762–769.
  7. Wang C, et al. Eur J Endocrinol 2008;159(5):507–514.
  8. Maggi M, et al. J Sex Med 2007;4(4 Pt 1):1056–1069.
  9. Malkin CJ et al. Heart 2010;96(22):1821-1825
  10. Traish A, et al Am J Med 2011; 124:578 –587. p587)
  11. Carruthers M, Cathcart P, Feneley MR. 2015. Aging Male. 18(4):217-27.


Tentang Bayer

Bayer adalah perusahaan global dengan kompetensi di bidang Life Science terkait kesehatan dan pertanian. Produk serta layanan Bayer dirancang untuk memberikan manfaat dan menjawab tantangan utama yang muncul akibat populasi dunia yang terus bertambah dan menua. Group Bayer bertujuan untuk menciptakan nilai melalui inovasi, pertumbuhan dan daya penghasilan tinggi. Sebagai korporasi, Bayer memegang teguh prinsip – prinsip pembangunan berkelanjutan, dan merek Bayer merupakan perwujudan dari kepercayaan, reliabilitas, dan kualitas di seluruh dunia. Pada tahun fiskal 2018, Bayer mempekerjakan 117.000 orang dengan penjualan senilai Euro 39,6 miliar. Belanja modal sebesar Euro 2,6 miliar dengan biaya R&D senilai Euro 5,2 miliar. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan kunjungi www.bayer.com atau www.bayer.co.id.

 

Kontak untuk Media :

Laksmi Prasvita
Head of Communications, Public Affairs & Sustainability

Sri Libri Kusnianti
Communications, Public Affairs & Sustainability
Telepon: +62 21 30491320
E-mail: sri.libri@bayer.com

Informasi lebih lanjut kunjungi : www.bayer.co.id atau www.bayer.com
Kunjungi Facebook kami : www.facebook.com/bayerindonesia

PP-NEB-ID-0050-1