14 Maret 2016

Perempuan masa kini di bidang Pertanian

Pasukan Perempuan di bidang Pertanian

Wanita adalah tulang punggung pertanian saat ini dan memberikan kontribusi besar bagi perekonomian global. Petani perempuan di seluruh dunia membuka gerbang pertanian mereka untuk berbagi wawasan terkait kehidupan sehari-hari mereka dan persepsi perempuan di bidang pertanian.

Kate Davidson, seorang petani perempuan dari New South Wales, Australia, menjalankan pertanian seluas 10.195 hektar bersama orang tua dan kakaknya. Dia lelah tetapi wajahnya memancarkan kepuasan: "Saya baru saja kembali dari putaran pertama saya bekerja pagi ini," katanya. "Meskipun ini merupakan kerja fisik yang berat, namun memuaskan karena saya telah mengembangkan masing-masing lahan."

 

Gairah untuk Pertanian

Elaine Bellamy, seorang petani 68-tahun dari Alberta, Kanada, menceritakan semangatnya di bidang pertanian: "Masing-masing lahan pertanian saya memiliki nama dan sejarah. Ada rasa kepuasan saat melihat canola dan biji-bijian yang datang pada musim gugur dan bahwa makanan kemudian didistribusikan ke seluruh dunia, memenuhi kebutuhan makan orang banyak." Bellamy adalah seorang guru sebelum mulai terlibat dengan pertanian: "Ketika ayah saya meninggal tahun 2002, saya terkejut karena beliau mewariskan pengelolaan pertanian kepada saya. Tapi beliau juga mengajarkan saya nilai dari tanah dan lahan ini. Orang tua saya sangat menanamkan kecintaan terhadap belajar dalam diri saya dan saya segera memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengoperasikan perusahaan pertanian keluarga yang besar ini." Pekerjaan dan perencanaan keuangan sangat penting, terutama bagi perempuan dalam pertanian, jika mereka berencana untuk bisa berkesinambungan. "Anda harus memiliki pemikiran yang cerdas dan tahu bagaimana bekerja dengan angka. Keterampilan matematika yang baik dan visi untuk masa depan sangat penting. Seperti dalam bisnis apapun, ada banyak sisi dalam pertanian, dan sebagai seorang wanita, Anda perlu menyadari bahwa Anda harus menjadi luar biasa. Masalah pertanian mempengaruhi semua petani, tak peduli gendernya. Terus belajar dan memperluas pengetahuan Anda," ujar Bellamy.

 

Pendidikan adalah kuncinya

Dalam hal ini, Kate Davidson melihat pendidikan sebagai kunci keberhasilan pertanian: "Jika perempuan semakin berpendidikan, maka mereka bisa berkontribusi lebih banyak. Mereka benar-benar dapat memanfaatkan keterampilan dalam bisnis dan membantu mereka tumbuh," katanya. Peluang bagi perempuan untuk mendapatkan pendidikan, bagaimanapun, merata di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang. Hal ini terutama jelas di daerah-daerah pedesaan, di mana kepala rumah tangga perempuan memiliki kurang dari setengah tahun pendidikan dibandingkan rekan-rekan pria mereka. Di Afrika, contohnya, perempuan pedesaan menderita akibat tingkat buta huruf yang tertinggi.

 

Bahkan, banyak petani perempuan di negara-negara tersebut mengalami kerugian lainnya dibandingkan dengan rekan-rekan pria mereka, yang disebut 'kesenjangan gender'. Bagi wanita di India, misalnya, sulit untuk mendapatkan akses kredit karena perempuan memiliki banyak kekurangan untuk mendapatkan pinjaman, seperti kepemilikan properti. Keadaan ini membuat sulit bagi petani perempuan India untuk memanfaatkan sumber daya yang diperlukan demi stabilitas tenaga kerja. Kesenjangan gender juga muncul dalam hal upah yang tidak setara. Misalnya, di negara berkembang di Afrika, upah perempuan di sektor pertanian adalah setengah dari upah laki-laki, meskipun wanita menghasilkan lebih dari 70 persen pangan Afrika.

 

Meskipun perempuan di negara-negara berkembang mewakili 43 persen dari angkatan kerja pertanian, mereka tidak memiliki kekuasaan secara signifikan di sektor ini, dibandingkan laki-laki. Jika mereka memiliki kesempatan dan akses ke sumber daya produktif yang sama seperti laki-laki – jika tidak ada kesenjangan gender – mereka bisa meningkatkan hasil pertanian hingga 20 – 30 persen. Kenaikan produksi pertanian ini akan cukup untuk memberi tambahan pangan bagi 150 juta orang.

 

Di negara-negara maju, petani perempuan cenderung merasa diperlakukan lebih setara. Karin Cluver, petani buah-buahan dari Afrika Selatan, menjalankan pertanian di dekat Grabouw, sebuah kota yang terletak 500 km sebelah timur dari Cape Town. Cluver, misalnya, tidak merasa seolah-olah dia adalah 'seorang wanita di dunia pria': "Saya adalah orang yang sangat dihormati dalam industri pertanian kita. Saya selalu memiliki kebebasan untuk bereksperimen dan memiliki dukungan besar dari ayahku," ujar wanita berusia 42 tahun ini. Bahkan, rasa percaya dirinya berasal dari pemikiran liberal keluarganya, suatu sifat yang telah lama ada dalam keluarganya. Nenek Cluver adalah petani perempuan pertama di wilayah ini. Sebagai seorang guru yang berkualitas, ia memulai sekolah pertanian untuk anak-anak buruh tani pada tahun 1957. "Hari ini, anak-anak dari 58 peternakan bersekolah di sini. Saya dan keluarga saya percaya bahwa tantangan bagi perempuan di bidang pertanian menjadi lebih sedikit jika wanita muda fokus pada pendidikan sejak awal," kata Cluver. Dalam konteks ini, sekolah yang didirikannya menetapkan fokus baru di bidang pertanian dengan memberikan keterampilan pertanian praktis untuk siswa. Cluver percaya bahwa keterampilan pertanian modern sangat penting bagi masa depan pertanian: "Selanjutnya, untuk memahami dasar-dasar, seperti tanaman, tanah dan air, Anda juga harus cerdas dalam hal interpretasi data," katanya. Dalam hal ini, Cluver mengakui pentingnya digitalisasi dalam pertanian: "Program seperti GPS pada traktor memberikan penjelasan dan pemahaman yang sangat jelas dari gambar yang muncul. Jadi kita harus menggunakan semua data. Ini tantangan kita untuk bersaing dengan kemajuan teknologi yang terus berlangsung."

 

Sukses Bagi Orang Berpikiran Terbuka

Selain itu, petani perempuan bisa mempengaruhi jalan mereka sendiri untuk sukses secara aktif dengan menunjukkan sikap pemikiran terbuka, misalnya melalui jaringan. Elaine Bellamy telah menghadiri beberapa konferensi di Kanada dan di Amerika Serikat. Alih-alih mencoba untuk terus berbicara sepanjang waktu, strateginya adalh aktif mendengarkan – terutama ketika berkomunikasi dengan petani laki-laki: "Saya selalu merasa diterima di industri ini, meskipun pria biasanya merasa lebih nyaman berbicara dengan laki-laki. Sebagai seorang wanita, terkadang bisa sulit untuk menjalin pembicaraan," katanya. "Namun, Anda dapat belajar banyak dari pengalaman mereka dengan mendengarkan dan mengajukan pertanyaan. Anda tidak selalu harus memimpin pembicaraan," lanjutnya. Namun demikian, Bellamy juga suka menghadiri konferensi yang cocok untuk petani perempuan, seperti Advancing Women in Agriculture Conference di Calgary, Kanada: "Acara ini benar-benar unik dan saya sangat bersemangat untuk hadir di acara seperti tersebut, yang hanya terdiri dari perempuan. Suasana penuh persaudaraan – perasaan yang sama sekali berbeda dari konferensi di mana aku satu-satunya perempuan di antara semua peserta yang hadir."

 

Selanjutnya, keterampilan kepemimpinan dapat memastikan keberhasilan bisnis jangka panjang bagi petani perempuan: "Asah keterampilan orang," Cluver merekomendasikan. Dia bertanggung jawab atas 120 karyawan tetap dan 300 karyawan musiman. "Sebagai seorang pemimpin, Anda harus mampu memotivasi tim Anda. Menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat dan mendukung mereka. Pengetahuan memberikan kekuatan dan rasa hormat," Cluver menambahkan.

 

Dalam konteks ini, menjadi petani perempuan yang sukses adalah tentang kepercayaan diri. Meskipun hampir 50 persen wanita bekerja yang terlibat dalam bisnis pertanian di negaranya Australia, Kate Davidson belum merasakan semangat dan persepsi yang sama dari rekan-rekan perempuannya: "Tantangan yang masih ada adalah bahwa banyak perempuan tidak mengidentifikasi diri mereka sebagai petani," katanya. Sebuah penelitian terbaru oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menegaskan hal ini. Menurut temuan mereka, wanita di seluruh dunia, dibandingkan pria, enggan mendefinisikan aktivitas mereka di bidang pertanian sebagai sebuah profesi atau pekerjaan; namun, rata-rata, perempuan bekerja, lebih lama dibandingkan laki-laki. Dalam banyak kasus, perempuan petani juga harus mengurus keluarganya – di luar waktu bekerja di bidang pertanian. Jadi, jika waktu pengasuhan keluarga masuk dalam perhitungan, wanita AS berkontribusi total waktu lebih banyak untuk pertanian.

 

Secara keseluruhan, petani – baik perempuan atau laki-laki – berbagi banyak tuntutan dan, di saat yang sama, peran yang menarik. Kate Davidson mengatakan secara singkat: "Hampir tidak ada rutinitas. Setiap hari berbeda. Jadi, Anda mungkin memiliki hari kerja di lahan, dan kemudian seminggu di kantor, atau seminggu menjalankan mesin traktor. Bagi saya, keragaman ini merupakan salah satu aspek terbaik dengan menjadi petani perempuan."

 

Sumber: http://www.cropscience.bayer.com/en/Magazine/The-Female-Force-of-Farming.aspx