07 September 2015

Kesan dan Pesan Para Pelajar yang Mewakili Indonesia di Ajang Youth AG-Summit 2015 bagian 2

Nama: Muhammad Iqbal Mirzal
Tgl Lahir:  23 April 1991
Lulusan S1 Teknik Bioproses, UI
Asal Daerah: Rawamangun, Jakarta 

 

Menjadi salah satu dari 6 delegasi Indonesia yang berhasil lolos ke Youth-ag Summit 2015 mungkin adalah salah satu hal yang akan paling saya syukuri di sepanjang tahun ini. Dimulai dari ide saya untuk memperbaiki ekosistem pangan dunia dengan menggunakan populasi lebah madu, saya diberikan kesempatan untuk memperlebar spektrum pengetahuan saya mengenai dunia pertanian dan peternakan dengan cara belajar langsung dari para ahlinya. Kami para delegasi dari Indonesia sangatlah beruntung karena memulai summit ini dengan melakukan program pendahuluan di Sragen, Jawa Tengah, pada bulan Juni lalu, dimana kami belajar dari para petani beras disana mengenai kehidupan nyata dari para petani Indonesia.

 

Tercengang dan marah, mungkin itulah dua kata yang paling tepat menggambarkan perasaan saya selama belajar dengan para petani-petani di sragen. Tercengang karena melihat begitu berat dan tidak pastinya hidup menjadi seorang petani di Indonesia, dan marah karena kondisi ini dibiarkan begitu saja oleh pemerintah. Dengan sifat dasar dari produk pertanian yang mudah rusak dan busuk, petani-petani ini seakan dikejar-kejar oleh bom waktu untuk dapat menjual hasil taninya, dengan kondisi harga yang tak menentu dan tak jarang merugikan mereka. Padahal, sebelum itu mereka harus berjuang susah payah menghalau tantangan hama dan belajar teknologi yang tidak sederhana untuk memastikan pertanian mereka berjalan baik. Namun, walaupun kehidupan para petani Indonesia sangatlah keras, pada akhirnya kami jadi belajar banyak tentang kerja keras dan kehidupan yang selaras dengan alam dari mereka. Ya, berjanji untuk tidak menyisakan makanan sepertinya telah menjadi oleh-oleh yang berharga bagi para delegasi Indonesia selepas dari Sragen.

 

Selepas mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran berharga dari Sragen, akhirnya kira-kira 2 bulan setelahnya kami bertolak ke Canberra untuk berdiskusi dan beradu pendapat dengan delegasi dari 33 negara terkait eksosistem pangan. Disana, kami benar-benar belajar banyak perspektif dari berbagai orang-orang dari berbagai  latar belakang, baik dari para pembicara, mentor, maupun delegasi negara lain. Berbagai ide pun saling berbentur mencari bentuk terbaik. Antara solusi jangka pendek dan panjang, antara idealita dan realita, serta antara kondisi aktual di negara berkembang dan negara maju. Poin paling terakhirlah yang menarik perhatian dan fokus saya lebih banyak, tentang bagaimana hasil deklarasi yang dikristalisasikan dari diskusi-diskusi kami di konferensi ini dapat pula menyesuaikan dengan kondisi negara berkembang yang sejatinya terkena dampak paling signifikan terkait krisis pangan dunia. Saya jadi teringat bagaimana saya dan teman-teman delegasi dari negara berkembang harus mempertahankan ide di hadapan dominasi delegasi dari negara maju agar hasil konferensi ini sesuai dengan tipikal masyarakat negara berkembang yang memiliki kompleksitas permasalahan yang lebih luas.

 

Selain inspirasi dan pengetahuan berharga yang kita peroleh selama konferensi, ada hal lain yang membuat saya sangat bersemangat di konferensi ini. Saya diberikan kesempatan besar untuk melakukan presentasi terkait ide saya dalam mengatasi permasalahan pangan. Ya, saya mempresentasikan ide saya terkait pentingnya memperbanyak populasi lebah madu di sepanjang hutan-hutan di dunia untuk memperbaiki kondisi ekosistem pangan dunia, disebabkan fungsi lebah madu yang berpotensi sebagai polinator utama tanaman dan mampu memperbaiki kondisi lingkungan alam bagi kelangsungan tanaman pertanian. Sepulang dari konferensi ini, saya jadi bertambah yakin untuk semakin membesarkan peternakan lebah yang saya miliki di daerah Sukabumi. Bahkan, bila berkesempatan, saya berharap ide peternakan lebah ini bisa disinergikan dengan lokasi-lokasi pertanian yang dibina oleh Bayer agar manfaat yang diperoleh dari sinergi ini bisa semakin berdampak luas. Terimakasih kepada Bayer International yang sudah memberikan saya kesempatan untuk belajar banyak tentang kondisi pangan dunia.

 

 
Nama: Amanda Widya Kharisma
Tgl Lahir:  8 Agustus 1994
Mahasiswa S1 Jurusan Ekonomi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Asal Daerah: Solo, Jateng

 

Sebuah pengalaman yang sangat berharga bisa ikut terlibat dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh PT Bayer yaitu Youth Ag Summit yang diselenggarakan di Canberra, Australia pada tanggal 22-28 Agustus 2015 lalu. Sebelum berangkat untuk mengikuti Summit tersebut, saya dan 5 delegasi Indonesia yang lain mengikuti live in dengan petani binaan Bayer di Sragen. Disana saya banyak mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Saya dan delegasi perempuan, yaitu Ami dituntut untuk mengikuti kegiatan sehari-hari seorang petani bernama bapak Paidi dan istrinya. Kami juga dituntut untuk merekam segala bentuk kegiatan dari Bapak Paidi dan istrinya untuk dilombakan dalam lomba Video petani oleh Bayer yang bernama YouFarm. Selama 5 hari kami tinggal dan mengikuti segala bentuk kegiatan dari Pak Paidi mulai dari menyiangi sawah, menyemprot pembasmi hama dan manjala ikan.

 

Segala bentuk permasalahan dan harapan dari pak Paidi yang mewakili suara petani di Indonesia kami masukkan dalam video kami yang berdurasi 5 menit untuk dilombakan di YouFarm. Masalah yang tak kalah penting adalah generasi muda yang tertarik didunia pertanian sangatlah sedikit dan cenderung acuh untuk meneruskan jasa para petani kita. Pak Paidi merasa prihatin akan generasi muda kita yang tidak ada yang ingin melanjutkan pekerjaan sebagai petani. Bahkan 2 anak laki-laki beliau tidak ada yang ingin meneruskan untuk melanjutkan pekerjaan ayah mereka. Padahal mereka bisa kuliah dan beredukasi berkat hasil dari bertani.

 

Berbagai permasalahan petani di Indonesia inilah yang kemudian saya bawa sebagai bahan diskusi dalam Youth Ag Summit (YAS) di Canberra lalu. YAS yang telah berlangsung kemarin sangat memberikan pengalaman dan jaringan yang luar biasa untuk saya.  Sebanyak 100 delegasi orang muda yang berasal dari 33 negara berkumpul untuk mencari solusi dalam masalah ketahanan dan ketersediaan pangan di dunia. Sebuah ajang Internasional yang membuat saya sadar bahwa negara Indonesia harus segera berbenah diri terutama dalam hal Kemandirian dan Keamanan Pangan. Dalam YAS ini saya dan delegasi dari negara lain diberikan kesempatan untuk menyuarakan permasalahan dan kontribusi apa yang bisa kami lakukan untuk negara kami dan dunia. Saya mahasiswa yang berasal dari jurusan ekonomi dituntut untuk lebih ekspresif dan percaya diri terutama ketika berhadapan dengan delagasi dari negara lain yang sudah berpengalaman didunia pertanian. Dari pengalaman ini saya banyak belajar mengenai dunia pertanian modern di Australia terutama pada saat kami mengikuti kunjungan lapangan di industri peternakan dan pertanian di Australia pada tanggal 26 Agustus 2015. Disana peternakan dan pertanian dikelola dengan sangat baik menggunakan teknologi dan ilmu pengetahuan yang sangat canggih. Petani dan peternak disana sangat didorong dan dibantu penuh oleh pemerintah sehingga industri pertanian dan peternakan mereka sangat maju.

 

YAS membuat mata saya terbuka untuk menyadari bahwa untuk memajukan sebuah negara, kita sangat memerlukan peran serta anak muda. YAS menuntut kami untuk menuliskan “3 little things” sebagai aksi nyata yang bisa kami lakukan setelah pulang ke negara masing-masing. Sepulang dari YAS, saya akan menulis artikel untuk di publish di media cetak seperti Koran mengenai YAS dan harapan saya untuk pertanian Indonesia. Selai itu, saya ingin merealisasikan komunitas pertanian bernama Youth Farming Community (YFC) seperti yang saya tulis di essay saya saat seleksi pertama kali.  Saya akan bekerjasama dengan banyak stakeholder dan pakar pertanian serta orang-orang muda untuk ikut memajukan pertanian Indonesia. Kita tidak boleh lagi mengandalkan pemerintah dan menunggu mereka memperbaiki pertanian kita. Saya telah melihat banyak hal di dunia pertanian mulai dari lokal hingga internasional. Jujur saya merasa sangat prihatin dan saya ingin melakukan sesuatu untuk negara Indonesia. Dengan bermodalkan jaringan yang saya dapatkan di YAS, saya yakin saya bisa melakukan gerakan saya ini meskipun dimulai dari hal yang kecil seperti menulis artikel. Saya ingin semua orang tahu bahwa untuk memajukan pertanian Indonesia tidak harus menjadi petani, namun bisa menjadi apapun asalkan memberikan kontribusi didunia pertanian. Bayer telah memberikan pengalaman yang luar biasa dan saya berterimakasih telah diberikan kesempatan menjadi delegasi Indonesia di YAS. Pengalaman yang menjadi bekal saya untuk menyebarkan “demam pertanian” ke seluruh anak muda di Indonesia. Pertanian Indonesia adalah tulang punggung dari Keamanan dan Kemandirian Pangan di Indonesia, oleh sebab itu kita generasi muda harus segera berdiri untuk memberikan sedikit kontribusi demi masa depan yang lebih baik.

 

Kesan dan pesan dari para peserta lain dapat dilihat disini :

 

Kesan dan Pesan Para Pelajar yang Mewakili Indonesia di Ajang Youth AG-Summit 2015 bagian 1
Kesan dan Pesan Para Pelajar yang Mewakili Indonesia di Ajang Youth AG-Summit 2015 bagian 3