30 September 2014

Hari Kontrasepsi Sedunia 2014: Bayer Dukung Program Keluarga Berencana untuk Membantu Keluarga Indonesia Merencanakan Masa Depannya

Bayer Indonesia hari ini kembali mencanangkan partisipasi aktifnya dalam peringatan World Contraception Day (WCD) atau Hari Kontrasepsi Sedunia yang jatuh pada 26 September 2014. Kampanye global WCD diluncurkan kali pertama di seluruh dunia pada 26 September 2007. Setiap tahunnya, dicetuskan tema besar yang disesuaikan dengan sub tema khusus di negara atau kawasan tertentu.

Lewat tema utama “It’s Your Life, It’s Your Future”, WCD 2014 di Indonesia diprakarsai oleh Bayer bersama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Asia Pacific Council on Contraception (APCOC), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), mengangkat tema
“Kontrasepsi Membantu Keluarga Merencanakan Masa Depan”.


Presiden Direktur Bayer Indonesia, Ashraf Al-Ouf, mengatakan: ”Bayer sebagai perusahaan memiliki visi mengedepankan ilmu pengetahuan untuk kehidupan yang lebih baik serta memimpin pasar kontrasepsi di dunia, sangat mendukung kebijakan pemerintah dalam program keluarga berencana. PT Bayer Indonesia bekerja sama erat dengan pemerintah untuk membantu meningkatkan informasi dan edukasi tentang kontrasepsi kepada perempuan Indonesia, agar mereka dapat mengambil keputusan yang tepat bagi kesehatan diri mereka yang tentunya sangat berdampak bagi kesehatan dan kesejahteraan keluarga di Indonesia.”


Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukkan bahwa hampir semua wanita umur 15-49 tahun (98 persen) mengetahui alat/cara kontrasepsi modern. Sementara 62 persen wanita berstatus kawin 15-49 tahun menggunakan suatu alat/cara kontrasepsi dan 58 persen menggunakan alat/cara kontrasepsi modern. Total kebutuhan ber -KB yang tidak terpenuhi (unmet need) di Indonesia adalah 11 persen, 7 persennya diantaranya adalah untuk membatasi kehamilan.


“Peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia diharapkan bisa menjadi momentum yang tepat untuk mengingatkan dan menyadarkan kembali semua pihak akan pentingnya kontrasepsi”, ucap Kepala BKKBN, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D, SpGK, yang juga hadir sebagai narasumber pada kegiatan hari ini. “Makna hari ini adalah agar kita selalu ingat bahwa kontrasepsi adalah salah satu alat yang efektif untuk mengatur kelahiran, jarak kehamilan serta mencegah kehamilan yang tidak diinginkan bagi pasangan usia subur, termasuk menjaga kesehatan reproduksi perempuan. Kontrasepsi juga merupakan kebutuhan utama keluarga dalam membentuk keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera, untuk memantapkan program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga di Indonesia, yang pada akhirnya dapat menekan laju pertumbuhan
penduduk.”

 

Prof. Dr. dr. Biran Affandi, SpOG(K), FAMM, Ketua Asia Pacific Council on Contraception untuk Indonesia, salah satu pemrakarsa kampanye global WCD, mengatakan: “Pemakaian kontrasepsi seharusnya dilakukan melalui informed decision, dan setiap ibu harusnya memiliki kemampuan untuk memilih, mendapatkan dan mengakses segala macam metode kontrasepsi berkualitas. Oleh karena itu, melalui kegiatan yang dilakukan dalam rangka Hari Konstrasepsi Dunia ini, edukasi masyarakat secara berlanjut sangat penting, terutama kepada generasi muda. Terbukti juga kontrasepsi telah mampu menurunkan angka kematian ibu dan bayi, dimana Indonesia masih menduduki posisi atas dalam hal angka kematian ibu dan bayi di ASEAN”.


Menurut data Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization – WHO), angka estimasi kematian ibu saat melahirkan di tahun 2013 per 100 ribu kelahiran hidup adalah sebagai berikut: Singapore 6/100.000, Thailand 26/100.000, Malaysia 29/100.000, Vietnam 49/100.000 dan Indonesia 190/100.0002.


Sejalan dengan pentingnya edukasi dan informasi langsung kepada pasien, peran dokter sangat integral dalam memastikan suksesnya penggunaan kontrasepsi oleh keluarga Indonesia. Ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Zaenal Abidin, MHKes, mengatakan: “Kami menghimbau seluruh dokter yang tergabung dalam IDI untuk dapat menjadi sumber informasi yang akurat bagi masyarakat mengenai kontrasepsi dan dapat mengedukasi pentingnya keluarga berencana dalam praktek sehari-hari mereka sesuai dengan Standard Operational Procedure (SOP), utamanya kepada pasien-pasien keluarga muda, dari sebelum menikah hingga berkeluarga. Di samping itu, peran dokter dalam membantu menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) akan berhasil apabila akar permasalahannya dapat dituntaskan.”


Peran Obgyn sebagai dokter spesialis yang langsung menangani pasien dalam bidang reproduksi dan ginekologi memegang peranan penting dalam memberikan edukasi tentang kontrasepsi. Seperti disampaikan oleh dr. Nurdadi Saleh, SpOG, Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI): “Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi memiliki peran yang
sangat besar dalam penambahan dan penyebaran aseptor jangka panjang, sesuai program pemerintah saat ini. POGI juga memberikan pelatihan kepada anggotanya dalam melakukan Indonesia Advanced Labor dan Risk Management (IN-ALARM) tentang pemasangan IUD pasca bersalin. Program ini wajib dilakukan oleh obgyn setiap 5 tahun sekali sebagai prasyarat untuk mendapatkan rekomendasi izin praktek.”


Sementara itu Dr. Emi Nurjasmi,M.Kes, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (IBI) mengatakan: “Revitalisasi Program Keluarga Berencana merupakan inisiatif yang wajib dijalankan dan sangat kami dukung. Untuk itu, kami secara berkesinambungan mengadakan berbagai kegiatan sosialisasi dan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan para bidan dalam konseling dan edukasi tentang Program KB agar perempuan di Indonesia dapat lebih memahami dan memilih kontrasepsi yang tepat sesuai dengan kebutuhan mereka.


Bidan adalah garda terdepan dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kontrasepsi bagi pembangunan keluarga yang sehat dan sejahtera”. Kesehatan reproduksi yang buruk dapat mempengaruhi prospek ekonomi generasi berikutnya. Dampak yang paling ekstrim timbul ketika seorang wanita atau bayinya meninggal saat melahirkan, di samping itu kesehatan ibu juga dapat mempengaruhi kesejahteraan dan pendidikan anak-anaknya.