17 Oktober 2019

Gerakan Peduli Hipertensi: “Kendalikan Hipertensi, Sayangi Ginjalmu”

  • Hipertensi menjadi penyebab utama gagal ginjal sehingga menjalani cuci darah (dialisis)1.
  • Pentingnya kesadaran dan kepatuhan pasien hipertensi dalam pengobatan sesuai dengan Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi 2019.
  • Bayer mendukung Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (PERHI / InaSH) untuk program Gerakan Peduli Hipertensi dengan melakukan serangkaian edukasi publik melalui media massa.

Jakarta, 17 Oktober 2019

Bayer Indonesia mendukung Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (PERHI) atau Indonesian Society of Hipertension (InaSH) untuk program Gerakan Peduli Hipertensi dengan melakukan serangkaian edukasi publik melalui media terkait hipertensi dan risiko terhadap kerusakan organ penting dan kematian.

 

Angel Michael Evangelista, Presiden Direktur Bayer Indonesia menyampaikan, ”Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang berakibat peningkatan angka kesakitan dan kematian serta beban biaya kesehatan termasuk di Indonesia. Dalam upaya menurunkan prevelensi hipertensi di Indonesia dibutuhkan komitmen bersama secara berkesinambungan dari semua pihak. Untuk itulah Bayer sangat mendukung Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia / InaSH terkait program Gerakan Peduli Hipertensi. Bayer melakukan serangkaian edukasi publik melalui media massa dengan menghadirkan Para Dokter Ahli di bidang hipertensi dan komplikasinya terhadap organ penting terkait”.

 

Hipertensi dapat menjadi penyebab risiko kerusakan organ penting seperti otak, jantung, ginjal, mata, pembuluh darah besar (aorta) dan pembuluh darah tepi1 yang mengakibatkan kecacatan dan kematian. Di Indonesia, dengan jumlah penduduk 265 juta orang, prevelensi hipertensi meningkat 34,1% pada tahun 2018 dibandingkan tahun 2013 sebesar 27,8%. Sementara itu prevalensi penyakit ginjal kronis berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk usia ≥ 15 tahun dan diagnosis dokter sebesar 3,8% atau sekitar 10 juta orang serta prevalensi yang pernah atau sedang menjalani cuci darah hasil pengukuran pada penduduk usia ≥ 15 tahun sebesar 19,3% atau sekitar 1,9 juta orang2. Data Indonesian Renal Registry 2017 (IRR) juga menunjukkan bahwa hipertensi menjadi penyebab utama gagal ginjal sehingga menjalani cuci darah (dialisis). Hipertensi yang tidak terkontrol merupakan faktor risiko Penyakit Ginjal Kronik (PGK). Sementara itu, penyakit ginjal kronik dapat memperburuk hipertensi yang tidak terkontrol karena ekspansi volume dan peningkatan resistensi perifer pembuluh darah. Terkait PGK, hipertensi dapat sebagai penyebab PGK, namun bisa juga hipertensi sebagai akibat PGK.

 

Dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH,FINASIM, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (PERHI) mengatakan, ”Tekanan darah tinggi terkait erat dengan penyakit gagal ginjal. Kedua penyakit ini terkait dalam dua cara: Pertama, tekanan darah tinggi penyebab utama Penyakit Ginjal Kronik (PGK). Seiring waktu, tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah ke seluruh tubuh, termasuk pembuluh darah ginjal menjadi menebal dan kaku (atherosclerosis). Kondisi ini menyebabkan  suplai darah berkurang ke organ-organ penting seperti ginjal. Tekanan darah tinggi juga merusak unit penyaringan kecil di ginjal (nephron) yang mengakibatkan proses penyaringan di ginjal akan terganggu, sehingga fungsi ginjal sebagai penyaring dan pembuang racun-racun sisa metabolisme akan terganggu yang berakibat menumpuknya racun-racun dan cairan  di dalam darah dan seluruh tubuh. Cairan berlebih dalam pembuluh darah akan meningkatkan tekanan darah lebih tinggi lagi. Kedua, tekanan darah tinggi juga bisa menjadi komplikasi PGK. Ginjal yang sehat memegang peran penting dalam menjaga tekanan darah jangka panjang melalui mekanisme hemodinamik (mengatur jumlah cairan dan garam) dan mekanisme hormonal (sistem renin-angiotensin). Ginjal yang tidak sehat akan berkurang fungsinya dalam membantu mengatur tekanan darah. Akibatnya, tekanan darah meningkat. Jika seseorang menderita PGK, tekanan darah tinggi akan berisiko memburuknya penyakit ginjal dan juga dapat menimbulkan penyakit jantung”.

 

Ukuran fungsi ginjal adalah seberapa mampu (kapasitas) ginjal itu membersihkan suatu zat tertentu (misalnya kreatinin) dalam satu menit. Jadi satuannya dalam milliliter/menit (ml/min). Penurunan fungsi ginjal memiliki tingkatan berdasarkan kapasitas tersebut yang disebut Laju Filtrasi Glomerulus (LFG)= Glomerular Filtration Rate (GFR) dalam milliliter/menit. GFR merupakan indikator fungsi ginjal seseorang. Bagi orang dengan ginjal yang normal, maka angka GFR ≥ 90 ml/min. Untuk ginjal dengan kerusakan ringan (mild) GFR ≥ 60 – 89 ml/min, kerusakan ginjal sedang (moderate) GFR≥ 30-59 ml/min, kerusakan ginjal berat (severe) GFR ≥15-29 ml/min dan gagal ginjal (failure) GFR <15 ml/min. Data IRR (Indonesia Renal Registry) tahun 2017 menunjukkan pasien yang aktif menjalani cuci darah sebesar 54.9% pada usia produktif (25-55 tahun) dari total jumlah pasien yang tercatat sebanyak 77.892 orang1.

 

Dr. Tunggul melanjutkan, “Gagal ginjal merupakan salah satu bentuk kecacatan organ permanen yang menakutkan disebabkan karena hipertensi yang seharusnya dapat dihindari. Penderita gagal ginjal biasanya akan kehilangan hari produktif dan kualitas hidup yang  sangat menurun bahkan resiko kematian yang tinggi. Oleh karena itu, orang yang terdiagnosis hipertensi harus mengendalikan tekanan darahnya sampai normal secara terus menerus dan tidak boleh menghentikan obat-obat hipertensi walaupun tekanan darahnya sudah stabil dan normal“.

 

Tentang cara tata kelola penatalaksanaan hipertensi, inisiasi obat hipertensi dan target tekanan darah yang harus dicapai secara rinci dicantumkan dalam Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi 2019 oleh PERHI, Dr. Tunggul menjelaskan, ”Pada penderita PGK, dengan atau tanpa diabetes, modifikasi gaya hidup dan obat anti hipertensi dianjurkan bila tekanan darah klinik ≥ 140/90 mmHg. Target TD yang harus dicapai adalah sekitar 130 – 139 / 70-79 mmHg. Penatalaksanaan secara individual dapat berbeda-beda untuk setiap individu dan perlu dipertimbangkan, juga toleransi dan efek terhadap fungsi ginjal, elektrolit dan adanya faktor resiko/pemyakit lain yang menyertainya. Secara umum disarankan terapi kombinasi sejak awal pengobatan dengan pilihan-pilihan kombinasi penyekat CCB (Calcium Channel Blocker) dan RAS atau diuretik tiazid”.

 

Fakta menunjukkan bahwa hipertensi umumnya tidak hanya sendiri, tapi selalu disertai adanya faktor risiko lain atau bersama-sama dengan keadaan / penyakit lain, misalnya diabetes dan kolesterol. Karena itu, pengobatan hipertensi tidak hanya sekedar menurunkan tekanan darah, tapi lebih dari itu, harus mengobati faktor risiko lainnya. Keputusan mengenai pemilihan golongan obat yang akan digunakan harus mengacu pada bukti studi klinis yang sudah ada (Evidence Base Medicine = EBM) yang disimpulkan menjadi Pedoman Baku (Guidelines) atau Konsensus.

 

Tentunya masih banyak faktor yang turut menentukan, seperti pengalaman klinis Dokter dan hal non-medik lainnya. Banyak penelitian, berbasis metode yang sahih, dilakukan untuk memastikan kemanjuran (efficacy), keamanan (safety) dan tolerabilitas obat anti-hipertensi. Misalnya penggunaan golongan Calcium Channel Blocker dalam hal ini Nifedipine dengan teknologi OROS, baik sebagai pengobatan tunggal atau kombinasi dengan obat anti-hipertensi lainnya, memberikan pengobatan hipertensi yang efektif, aman dan ditoleransi dengan baik dalam spektrum yang luas bagi pasien hipertensi. Dan hal ini sudah terbukti dalam praktek pengobatan sehari-hari4.

 

Nifedipine dengan teknologi OROS – Osmotic-controlled Release Oral delivery System memungkinkan obat Nifedipine bertahan di dalam tubuh selama 24 jam dan menjaga tekanan darah tetap normal sepanjang hari.

 

***

Referensi:

  1. https://www.indonesianrenalregistry.org/data/IRR%202017%20.pdf
  2. Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi 2019
  3. Riset Kesehatan Dasar 2018
  4. www.kidney.org
  5. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21591818

Tentang Bayer

Bayer adalah perusahaan global dengan kompetensi di bidang Life Science terkait kesehatan dan pertanian. Produk serta layanan Bayer dirancang untuk memberikan manfaat dan menjawab tantangan utama yang muncul akibat populasi dunia yang terus bertambah dan menua. Group Bayer bertujuan untuk menciptakan nilai melalui inovasi, pertumbuhan dan daya penghasilan tinggi. Sebagai korporasi, Bayer memegang teguh prinsip – prinsip pembangunan berkelanjutan, dan merek Bayer merupakan perwujudan dari kepercayaan, reliabilitas, dan kualitas di seluruh dunia. Pada tahun fiskal 2018, Bayer mempekerjakan 117.000 orang dengan penjualan senilai Euro 39,6 miliar. Belanja modal sebesar Euro 2,6 miliar dengan biaya R&D senilai Euro 5,2 miliar. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan kunjungi www.bayer.com atau www.bayer.co.id.

 

 

Kontak untuk Media:

Laksmi Prasvita
Head of Communications, Public Affairs & Sustainability

 

Sri Libri Kusnianti
Communications, Public Affairs & Sustainability
Telepon: +62 21 30491320

E-mail: sri.libri@bayer.com

 

Informasi lebih lanjut kunjungi : www.bayer.co.id atau www.bayer.com

Kunjungi Facebook kami : www.facebook.com/bayerindonesia


Lembar Fakta

Nifedipine dengan teknologi OROS (Osmotic-Controlled Release Oral Delivery System)

 

Nifedipine adalah Dihydropyridine (DHP) Calcium Channel Blocker (CCB) yang diindikasikan untuk pengobatan hipertensi.

 

Nifedipine dengan teknologi OROS (Osmotic-controlled Release Oral delivery System) yang merupakan teknologi canggih yang memungkinkan Nifedipine dilepaskan secara berkelanjutan dalam waktu 24 jam1-2.  Efikasi Nifedipine dengan teknologi OROS (Nifedipine OROS) sebagai anti-hipertensi dan profil keamanan formulasi obat telah ditunjukkan dalam skala luas dan dalam studi klinis.3-5 Tablet Nifedipine OROS terdiri dari lapisan Nifedipine dan lapisan granul osmotik aktif yang dibungkus dengan lapisan luar semi permabel yang tidak larut dalam air1. Di lapisan luar ini terdapat lubang kecil / berpori dan setelah diminum, obat akan menyerap air untuk membuat suspensi / larutan Nifedipine di dalam polimer / cangkang obat. Ketika polimer mengembang dan tekanan osmotik meningkat, suspensi obat didorong keluar perlahan (dalam kurun waktu 24 jam) melalui lubang yang dibuat pada permukaan tablet obat1.

 

Teknologi OROS ini yang tidak dipergunakan dalam formulasi Nifedipine generik.

 

Nifedipine OROS efektif dan stabil dalam menurunkan tekanan darah4 :

Berdasarkan penelitian INSIGHT – yang melibatkan 6321 pasien dengan hipertensi yang diberikan obat co-amilozide atau Nifedipine OROS4 :

  • 58% pasien yang diobati dengan Nifedipine OROS mencapai target tekanan darah yang direkomendasikan sesuai pedoman : < 140/90 mmHg4
  • 69% pasien tetap menggunakan terapi tunggal dengan Nifedipine OROS setelah 48 bulan4

 

 

Referensi :

  1. Grundy JS, et al. Clin Pharmacokinet. 1996;30:28-51.
  2. Meredith PA, et al. Integr Blood Press Control. 2013;6:79-87.
  3. Mancia G, et al. J Hypertens 2002;20:545-53.
  4. Brown M, et al. Lancet 2000;356:366-72.
  5. Mancia G, et al. Hypertension 2003;41:431-6.

 

PP-ADA-ID-0032-1 - 15.10.2019