11 Agustus 2016

Garam - Bahaya Baru Menghadapi Pertumbuhan Padi

Di Delta Mekong, Vietnam, air laut garam semakin menembus ke daerah-daerah pedalaman melalui sungai dan parit dan menghancurkan panen padi. Masalah ini telah menjadi ancaman serius. Bukan hanya bagi mata pencaharian jutaan petani padi di seluruh wilayah, sebagai eksportir beras terbesar kedua di dunia, Vietnam memainkan peran penting dalam menyediakan pasokan pangan bagi populasi dunia.

Melalui jaringan parit dan kanal yang luas, air laut bergerak maju semakin jauh ke pedalaman daerah pantai, dan meningkatkan kandungan garam dalam air yang mengalir melalui sawah. Hal ini merusak bibit padi, karena akar mereka tidak dapat berkembang dengan baik. Daun menguning, tanaman layu dan panen pun gagal.

 

Pada semester pertama tahun ini, fenomena El Nino mencapai puncaknya setelah 100 tahun. Gelombang panas, kekeringan dan intrusi garam serius mempengaruhi produksi pertanian dan kehidupan warga setempat. Diperkirakan kerugian pertanian di Delta Mekong sebesar sekitar 4,7 triliun Dong Vietnam (210 juta dolar AS).

 

Menurut laporan terbaru dari Kementerian Vietnam Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, pada Juni 2016, daerah produksi udang yang rusak oleh gangguan garam mencakup kurang lebih 83.000 ha. Pada saat yang sama, sekitar 232.000 hektar padi, 6561 hektar lahan tanaman, dan lebih dari 10.800 hektar lahan buah dan industri pohon pun telah rusak.

 

Kini situasi di Delta Mekong memburuk secara dramatis. Perubahan iklimlah yang menjadi masalah, hujan yang konstan selama ribuan tahun itu, hampir tidak ada pada tahun lalu. Sedikitnya curah hujan tidak cukup untuk mengairi sawah. Sedangkan bendungan, hanya menahan sedikit air yang mengaliri Sungai Mekong. Pada saat yang sama, tingkat air laut makin naik sedikit demi sedikit pada dekade terakhir, menyebabkan air garam terus masuk ke dataran dan pemukiman.

 

Penelitian Bayer membantu para petani di Delta Mekong. Selama pengembangan varietas padi hibrida baru, perusahaan memodifikasi sifat benih untuk memenuhi kebutuhan spesifik para petani padi. "Petani di Delta Mekong membutuhkan varietas padi yang kuat dan unggul yang dapat berkembang bahkan di air yang sangat asin," jelas Nguyen Thanh Hoan Hao, spesialis benih di Vietnam. Karena itu, delapan tahun yang lalu Bayer mengembangkan Arize hybrid. "Benih ini bukan hanya tahan penyakit dan berimbas hasil panen lebih tinggi, namun juga mentolerir kadar garam yang tinggi dalam air, jauh lebih baik daripada varietas konvensional."

 

Bayer telah menyelamatkan panen yang tak terhitung jumlahnya di Delta Mekong dengan produk inovatif tersebut, kata Thanh Hoan Hao. "Banyak petani saat ini bergantung pada benih padi hibrida Arize."

 

Phan Van Giang, seorang petani padi Vietnam, juga menggunakan benih hibrida ini. Ia adalah satu di antara beberapa petani pertama di daerahnya yang beralih menggunakan varietas padi dari Bayer ini sejak delapan tahun yang lalu. “Ini merupakan keputusan terbaik yang saya ambil,” ujarnya. “Ketika rekan-rekan petani saya harus menjual lahan pertaniannya akibat salinitasi, saya masih bisa bertahan secara finansial.”

 

Sebelum akhir tahun ini, Bayer berencana untuk meluncurkan varietas padi hibrida baru dengan toleransi garam yang lebih besar di India, Bangladesh dan Vietnam. Phan Van Giang merasa sangat bersemangat mengenai produk baru ini. “Saya akan langsung mencobanya, tentu saja,” ujarnya. “Saya sudah membeli lahan pertanian lagi, yang rencananya akan saya tanami padi Arize,” tambah petani yang semakin optimis dengan masa depan pertaniannya ini.

 

Sumber: http://www.magazine.bayer.com/en/salt-the-new-danger-facing-rice-growers.aspx?WT.mc_id=20160805_reisbauern_en_1