20 Oktober 2016

Diskusi Media: Diabetik Makular Edema (DME): Si Pencuri Penglihatan & Beban Hidup - Peluncuran Aflibercept untuk Indikasi DME

  • Komplikasi umum diabetik retinopati adalah diabetik makular edema, biasa dikenal sebagai DME1
  • Risiko berkembangnya DME terkait erat dengan seberapa lama pasien telah hidup dengan diabetes dan tingkat keparahan dari diabetik retinopati1,2
  • Bayer meluncurkan Aflibercept untuk indikasi DME di Indonesia untuk membantu para pasien DME memperbaiki dan mempertahankan penglihatan mereka serta memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Jakarta, 20 Oktober 2016
PT Bayer Indonesia mengadakan diskusi media dengan topik Diabetik Makular Edema (DME): Si Pencuri Penglihatan & Beban Hidup serta peluncuran Aflibercept untuk indikasi DME. Dalam diskusi media ini dipaparkan fakta-fakta dan informasi mengenai DME dan pilihan pengobatannya.

Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan 2013 menunjukkan sekitar 6,9% atau sekitar 12,2 juta penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas mengidap Diabetes Melitus (DM). Sekitar 20-25% di antara total pasien DM kemungkinan akan menderita retinopati diabetikum dan tahap lanjut akan berkembang menjadi Diabetik Makular Edema (DME) yang akhirnya bila tidak mendapatkan pengobatan yang tepat akan menyebabkan kebutaan total.

Ashraf Al-Ouf, Presiden Direktur PT Bayer mengatakan ”Sesuai dengan komitmen Bayer, yaitu Science for Better Life, Bayer hari ini meluncurkan Aflibercept untuk indikasi DME di Indonesia untuk membantu para pasien DME memperbaiki dan mempertahankan penglihatan mereka serta memperoleh kehidupan yang lebih baik. Aflibercept adalah pengobatan DME terbaru, suatu terapi anti-VEGF (Vascular Endothelial Growth Factor) yang membantu mengurangi gangguan penglihatan serta kebutaan pada pasien dan membantu meningkatkan hasil terapi pada pasien usia produktif dan usia lanjut. Bayer telah mengembangkan terapi anti-VEGF yang cepat mengurangi edema dan mengembalikan penglihatan sentral. Aflibercept telah disetujui oleh otoritas kesehatan terkait (BPOM) dan efektif untuk pasien dengan indikasi DME. Sebagai pemimpin di bidang oftalmologi, Bayer berkomitmen untuk mengatasi kebutuhan pengobatan yang belum terpenuhi, mengurangi beban pengobatan dan menemukan terapi untuk penyakit mata. Selain itu, Bayer berkomitmen mendidik masyarakat dan meningkatkan kesadaran akan beban global dan nasional akan gangguan penglihatan dan apa pengaruhnya bagi orang-orang yang tidak dapat melakukan tugas-tugas sehari-hari karena penglihatan mereka terganggu. Tentunya upaya-upaya tersebut tidak dapat dilakukan Bayer sendiri dan perlu untuk melakukan kolaborasi dengan dokter mata, akademisi dan peneliti untuk menghasilkan produk yang inovatif untuk kepentingan pasien.“

Dr. Rumita S. Kadarisman, SpM mengatakan “Penting bagi pasien diabetes, terutama yang mengidap diabetes lebih dari lima tahun, untuk memeriksakan retinanya. Sekitar sepertiga dari orang-orang dengan diabetes, terkait diabetes atau retinopati, penyakitnya berkembang hingga tahap kerusakan mata3. Penyebab utama retinopati adalah kombinasi dari tingginya tingkat tekanan darah, gula darah dan kolesterol. Komplikasi umum diabetik retinopati adalah diabetik makular edema, biasa dikenal sebagai DME3. Risiko berkembangnya DME terkait erat dengan seberapa lama pasien telah hidup dengan diabetes dan tingkat keparahan dari diabetik retinopati1,2. Diabetik Makular Edema (DME) dan retinopati diabetik (DR – Diabetic Retinopathy) adalah komplikasi mikrovaskuler umum pada orang dengan diabetes. DME terjadi ketika kebocoran cairan ke pusat makula, bagian peka cahaya dari retina yang bertanggung jawab untuk ketajaman penglihatan langsung. Cairan di makula bisa menyebabkan kehilangan penglihatan yang parah atau kebutaan.”

Pada pasien DM menahun, perubahan tingkat gula darah dari waktu ke waktu dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah kecil di dalam retina dan dapat menyebabkan komplikasi yang memiliki konsekuensi parah dalam hal morbiditas (angka kesakitan)3,4. Untuk mempertahankan dan memperbaiki kualitas penglihatan, maka sangat penting bagi pasien DME untuk segera diberikan pengobatan yang tepat agar penglihatannya dapat dipertahankan. Tanpa pengobatan, dengan menggunakan pemeriksaan ketajaman mata ETDRS, pasien DME dapat kehilangan 2 baris dari penglihatannya dalam waktu 2 tahun pertama5. Dengan diagnosa dini dan pengobatan yang tepat, kemungkinan pasien kehilangan penglihatan dapat diminimalkan dan bahkan dipulihkan, sehingga memungkinkan mereka untuk bisa mendapatkan kehidupan yang normal kembali5,6.

Terkait pengobatan DME, Dr. Elvioza, SpM mengatakan ”Ada dua tujuan pengobatan untuk pasien DME yaitu stabilitas penglihatan dengan cara mencegah memburuknya retina, mencegah memburuknya edema, memperbaiki hyper-reflective foci. Tujuan lainnya adalah terapi pemulihan dengan cara mempertahankan atau meningkatkan koreksi ketajaman visual atau Best Corrected Visual Acuity (BCVA) dan memperbaiki edema. Ada beberapa pengobatan untuk DME seperti laser khusus yang dapat menutup kapiler bocor, mengurangi pembengkakan dan pemberian steroid. Selain itu, saat ini ada pengobatan terbaru dengan terapi anti-VEGF. VEGF adalah faktor pertumbuhan pembuluh darah. Ketika disuntikkan ke mata, obat ini menghambat VEGF sehingga pembentukan pembuluh darah baru bisa dicegah dan pembengkakan dapat dikurangi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terapi anti-VEGF lebih efektif dalam memperbaiki koreksi ketajaman penglihatan mata dibandingkan laser atau pengobaan steroid pada DME. Semakin dini mendapatkan pengobatan, maka penglihatan pasien DME dapat terselamatkan”.

DME merupakan salah satu sebab tersering dari masalah gangguan penglihatan berat pada populasi usia kerja5, karena mayoritas orang di bawah usia 50 masih bekerja, gangguan penglihatan dapat menyebabkan hilangnya produktivitas dan pendapatan3. Kerusakan penglihatan terkait dengan DME dapat menyebabkan kesulitan melakukan tugas dan peran sehari-hari, penurunan kualitas hidup, dan risiko dari masalah-masalah kesehatan mental7,8. Di samping itu pasien dengan DME mengeluarkan biaya tahunan sekitar dua kali lipat lebih besar daripada pasien yang hanya mengidap diabetes saja9. Kerusakan visual bukan hanya berdampak pada individu,namun juga berdampak pada beban sosial dan keuangan keluarga, komunitas dan negara3.


Tentang Bayer: Science For A Better Life
Bayer adalah perusahaan global dengan kompetensi di bidang Life Science terkait kesehatan dan pertanian. Produk serta layanan Bayer dirancang untuk memberikan manfaat serta meningkatkan kualitas hidup manusia. Group Bayer bertujuan untuk menciptakan nilai melalui inovasi, pertumbuhan dan daya penghasilan tinggi. Sebagai korporasi, Bayer memegang teguh prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan serta tanggung jawab sosial dan etika. Pada tahun fiskal 2015, Bayer mempekerjakan 117.000 orang dengan penjualan senilai Euro 46,3 miliar. Belanja modal sebesar Euro 2,6 miliar dengan biaya R&D senilai Euro 4,3 miliar. Nilai-nilai tersebut termasuk bisnis polimer berteknologi tinggi yang telah ditawarkan ke bursa saham sebagai perusahaan independen bernama Covestro pada tanggal 6 Oktober 2015. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan kunjungi www.bayer.com atau www.bayer.co.id.

Media Contact:
Anton Susanto
Head of Communications
PT Bayer Indonesia
Phone: +62-21-30491506
E-mail: anton.susanto@bayer.com

Pernyataan Perkiraan Kedepan
Rilis ini mungkin berisi pernyataan berdasarkan asumsi saat ini dan perkiraan yang dibuat oleh Grup Bayer atau manajemen subkelompok ke depan. Berbagai risiko, ketidakpastian dan faktor-faktor lain dapat menyebabkan perbedaan materi antara hasil aktual di masa depan, situasi keuangan, pengembangan atau kinerja perusahaan dan perkiraan yang diberikan di sini. Faktor-faktor ini termasuk yang dibahas dalam laporan publik Bayer yang tersedia di situs web Bayer di www.bayer.com. Perusahaan tidak bertanggung jawab apa pun atas perubahan pernyataan berwawasan ke depan atau kejadian masa depan atau perkembangan.

 Referensi:

  1. National Eye Institute. Facts About Diabetic Retinopathy, http://www.nei.nih.gov/health/diabetic/retinopathy.asp.
  2. Lighthouse International. Diabetic Retinopathy Overview, http://www.lighthouse.org/about-low-vision-blindness/vision-disorders/diabeticretinopathy/diabetic-retinopathy-overview.
  3. IDF. Diabetes Atlas. Sixth Edition. 2013, http://www.idf.org/diabetesatlas/download-book.
  4. Prevalence of lower extremity diseases associated with normal glucose levels, impaired fasting glucose, and diabetes among U.S. adults aged 40 or older. Diabetes Res Clin Pract. 2007;77:485-488
  5. Ciulla, T.A. et al. Diabetic retinopathy and diabetic macular edema: pathophysiology, screening, and novel therapies. Diabetes Care 2003;26:2653-64.
  6. Boyer, D. et al. Anti-vascular  Endothelial Growth Factor Therapy for Diabetic Macular Edema. Ther Adv in Endo and Metab. 2013;4(6):151-169.
  7. Davidson, J.A. et al. How the diabetic eye loses vision. Endocrine.2007;32(1):107-116.
  8. De Groot, M. et al. Association of depression and diabetes complications: a meta-analysis.Psychosom Med. 2001; 63(4):619-630.

Vision for the future. Parliament magazine. 2011;320:22.

 

L.ID.COM.SM.10.2016.0177