02 Juni 2016

Diskusi Media Bayer: Seputar Masalah Intim Lelaki (SMILe) - Hipogonadisme Berisiko Kematian

  • Adanya efek timbal balik (reversable) antara hipogonadisme dengan sindrom metabolik.
  • Hipogonadisme merupakan salah satu faktor risiko ­­­ metabolik sebagai pembunuh diam-diam.
  • Pentingnya terapi testosteron bagi penderita hipogonadisme dan sindrom metabolik.

PT Bayer Indonesia sebagai perusahaan global berbasis Life Science berkomitmen untuk memberikan informasi terkait kesehatan kepada masyarakat luas. Untuk itu dalam kesempatan ini, Bayer mengadakan diskusi media Bayer: Seputar Masalah Intim Lelaki (SMILe) – Hipogonadisme Berisiko Kematian. Dalam diskusi media ini dipaparkan fakta-fakta dan informasi penelitian ilmiah yang sudah teruji kebenarannya (evidence base) terkait hubungan timbal-balik antara defisiensi testosteron dengan sindrom metabolik yang bisa menjadi pembunuh diam-diam.

 

Apa yang ada di pikiran orang, apabila mendengar kata ‘hormon testosteron’, yang juga dikenal sebagai ‘hormon pria’? Banyak orang, bahkan sebagian yang berkecimpung di dunia medis pasti mengaitkan hormon tersebut dengan seks dan kekuatan otot. Memang testosteron penting untuk perkembangan organ dan mempertahankan fungsi seks/ reproduksi pria dan diperlukan mulai dari awal hingga akhir kehidupan seorang pria. Namun beberapa tahun terakhir banyak penelitian yang sudah teruji kebenarannya membuktikan bahwa penurunan kadar testosteron menyebabkan penurunan kepadatan tulang dan peningkatan insiden patah tulang, penurunan sel darah merah, penurunan massa otot dan peningkatan lemak, depresi dan gangguan suasana hati. Yang perlu menjadi perhatian khusus adalah peningkatan risiko terjadinya sindrom metabolik dan penyakit jantung koroner yang akhirnya menyebabkan kematian.

 

Menurut National Health Institute,USA, sindrom metabolik adalah sekelompok faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan masalah kesehatan lainnya, seperti diabetes dan stroke. Menurut berbagai penelitian risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah meningkat dua kali lipat, bahkan terjadinya diabetes meningkat lima kali lipat, apabila seseorang menderita sindrom metabolik setelah 5-10 tahun1. Dr. Johannes Soedjono, M.Kes.,Sp.And mengatakan bahwa faktor-faktor risiko sindrom metabolik cenderung terjadi bersama-sama.

 

Federasi Diabetes Internasional (IDF) menyatakan faktor risiko tersebut adalah, obesitas perut (> 90 cm untuk pria dan > 80 cm untuk wanita Asia), meningkatnya kadar gula darah puasa (> 100 mg/dl), peningkatan trigliserid (> 150 mg/dl) dan penurunanan HDL (< 40 mg/dl untuk pria dan , < 50 mg/dl untuk wanita) dan tekanan darah tinggi (> 130/85 mmHg). Seseorang didiagnosa memiliki sindrom metabolik bila setidaknya memiliki tiga faktor risiko2. Kelebihan lemak di area perut merupakan faktor risiko yang lebih besar untuk penyakit jantung dibandingkan kelebihan lemak di bagian lain dari tubuh, seperti pada pinggul. Demikian pula dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Jika tekanan ini meningkat dan tetap tinggi dari waktu ke waktu, hal itu dapat merusak hati dan menyebabkan penumpukan plak. Ketiga, tingginya gula darah puasa. Kondisi ini merupakan tanda awal diabetes. “Jika seorang pria menderita sindrom metabolik, maka kemungkinan pria tersebut mengalami hipogonadisme meningkat tiga kali lipat dan angka kematiannya meningkat sekitar satu setengah kali. Disamping itu, seiring bertambahnya usia maka terjadi penurunan kadar hormon testosteron total dalam tubuh seorang pria. Penurunan ini sekitar 2-3% per tahun. Maka di usia 40 tahun kadar testosteron menjadi sekitar 65-70% dan pada usia 60 tahun ke atas sekitar 45-50% dari usia 25 tahun”.

 

Banyak pria lanjut usia mengabaikan gejala-gejala seperti penurunan libido, disfungsi ereksi, mudah lelah, mudah berkeringat, penambahan lingkar pinggang dan mengantuk setelah makan. Seringkali kondisi ini dianggap lazim karena dikaitkan dengan penambahan usia. Padahal gejala tersebut kemungkinan merupakan petanda seorang pria telah mengalami penurunan testosteron, yang disebut sebagai hipogonadisme atau sindrom defisiensi testosteron (Testosterone deficiency syndrome=TDS). Kadar rendah testosteron menurut European Society of Sexual Medicine (ESSM) adalah 300 ng/dl.

 

Hubungan antara hipogonadisme, sindrom metabolik dan penyakit jantung dan pembuluh darah sudah terbukti, baik secara eksperimental maupun klinis. Oleh karena itu untuk mengurangi risiko kematian akibat penyakit jantung pada pria dengan hypogonadisme, baik yang disertai sindrom metabolik ataupun yang belum, pemberian terapi sulih hormon testosteron sangatlah penting untuk memotong rantai hubungan timbal balik tersebut. Semakin berat keluhan hipogonadisme yang timbul, semakin besar kemungkinan yang bersangkutan terkena penyakit jantung dan pembuluh darah3.

 

Penelitian membuktikan bahwa terapi testosteron dapat memperbaiki setiap komponen sindrom metabolik, mengurangi massa lemak, memperbaiki massa otot, menurunkan kadar gula, memperbaiki sensitivitas insulin, memperbaiki lipid sehingga kolesterol LDL dan trigleserid dapat turun dan HDL meningkat, dapat mengurangi tekanan darah baik sistolik maupun diastolik4 ,“ kata Dr. Johannes.

 

Seperti halnya dengan penyakit lain, gaya hidup sehat adalah syarat mutlak, apabila seseorang ingin tetap sehat sampai di hari tua.

 

Referensi:

  1. National Health Statistics Reports No.13, May 5, 2009: Prevalence of Metabolic Syndrome Among Adults 20 Years of Age and Over, by Sex, Age, Race and Ethnicity, and Body Mass Index: United States, 2003– 2006, by R. Bethene Ervin, Ph.D., R.D., Division of Health and Nutrition Examination Surveys.
  2. www.nhlbi.nih.gov/health/health-topics/topics/ms
  3. Bodie J et al. J Urol 2003; 169:2262–2264.
  4. Diabetes UK, personal communication. 27/02/09.

 

Bayer: Science For A Better Life

Bayer adalah perusahaan global dengan kompetensi di bidang Life Science terkait kesehatan dan pertanian. Produk serta layanan Bayer dirancang untuk memberikan manfaat serta meningkatkan kualitas hidup manusia. Group Bayer bertujuan untuk menciptakan nilai melalui inovasi, pertumbuhan dan daya penghasilan tinggi. Sebagai korporasi, Bayer memegang teguh prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan serta tanggung jawab sosial dan etika. Pada tahun fiskal 2015, Bayer mempekerjakan 117.000 orang dengan penjualan senilai Euro 46,3 miliar. Belanja modal sebesar Euro 2,6 miliar dengan biaya R&D senilai Euro 4,3 miliar. Nilai- nilai tersebut termasuk bisnis polimer berteknologi tinggi yang telah ditawarkan ke bursa saham sebagai perusahaan independen bernama Covestro pada tanggal 6 Oktober 2016. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan kunjungi www.bayer.com atau www.bayer.co.id.

 

Media Contact:

Anton Susanto

Head of Communications - PT Bayer Indonesia

Phone: +62-21-30491506

E-mail: anton.susanto@bayer.com

 

Pernyataan Perkiraan Kedepan

Rilis ini mungkin berisi pernyataan berdasarkan asumsi saat ini dan perkiraan yang dibuat oleh Grup Bayer atau manajemen subkelompok ke depan. Berbagai resiko, ketidakpastian dan faktor-faktor lain dapat menyebabkan perbedaan materi antara hasil aktual di masa depan, situasi keuangan, pengembangan atau kinerja perusahaan dan perkiraan yang diberikan di sini. Faktor-faktor ini termasuk yang dibahas dalam laporan publik Bayer yang tersedia di situs web Bayer di www.bayer.co.id. Perusahaan tidak bertanggung jawab apa pun atas perubahan pernyataan berwawasan ke depan atau kejadian masa depan atau perkembangan.

 

 

L.ID.COM.GM.05.2016.0999