08 Juli 2015

Bayer Tawarkan Kesempatan Berharga Bagi Calon Ilmuwan Masa Depan Indonesia

Pengalaman kerja dan studi lintas-negara akan memperluas cakrawala pengetahuan para ilmuwan, peneliti muda, dan kalangan profesional Indonesia untuk bersaing di dunia internasional.

 

Bayer percaya bahwa komitmen jangka panjang pada ilmu pengetahuan, pendidikan, dan isu sosial merupakan investasi penting untuk kelangsungan hidup manusia di masa depan, serta akan melindungi keberhasilan ekonomi perusahaan di masa-masa yang akan datang. Melalui Bayer Fellowship Program, Bayer menunjukkan kepedulian dan dukungan untuk penelitian-penelitian terkini, individu-individu berbakat, dan proyek-proyek serta pendidikan yang inovatif.

 

Bayer Fellowship Program menawarkan empat jenis beasiswa akademik bagi generasi muda berprestasi dengan latar Ilmu Alam(Otto Bayer Scholarship), Ilmu Kedokteran dan Farmasi (Carl Duisberg Scholarship), Ilmu Pertanian (Jeff Schell Scholarship), Guru Sains (Kurt Hansen Scholarship), serta satu beasiswa untuk bidang non-akademik (Hermann Strenger Scholarship). Para pelamar dapat berasal dari kalangan mahasiswa perguruan tinggi, para peneliti dan ilmuwan berbakat, atau para trainee. Sejak dimulainya program ini pada tahun 2007, setiap tahunnya Bayer Fellowship Program menggelontorkan dana sekitar EUR 230 ribu untuk pendanaan studi. Hingga tahun 2014, total dana yang dikeluarkan adalah sebesar EUR 1,3 juta untuk 302 mahasiswa dari seluruh dunia.

 

Program beasiswa ini tidak hanya memberikan kesempatan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang lebih mutakhir, namun juga pengalaman bekerja lintas-negara yang sangat berharga bagi perkembangan karir dan masa depan. Manfaat dari program ini telah dirasakan oleh beberapa mahasiswa manca negara yang telah berhasil mendapatkan beasiswa melalui Bayer Fellowship Program.

  

Martina Knittel, terapis yang mendapatkan Hermann Strenger Scholarship, membuktikan bahwa kesempatan bekerja di Cape Town, Afrika selama 6 bulan memberikan pengalaman yang mempengaruhi hidupnya. “Beasiswa ini berperan penting membentuk masa depan saya,” ujarnya. Sepulangnya dari Cape Town, Martina mulai mempelajari sosiologi dan etnologi bangsa Afrika dan mengharapkan kesempatan kedua untuk kembali ke sana.

 

Sementara itu, Peter Nelle, penerima beasiswa Kurt Hansen mendapatkan bantuan pendanaan periode studi di Queens University di Belfast pada February-Juli 2009. Selama masa studinya, Peter bekerja sama dengan tim ahli biologi ikan mempelajari rantai makanan di danau air asin Strangford Lough, di selatan Belfast. “Sederhananya, kami mempelajari siapa memakan siapa.” Peter mengaplikasikan pengetahuan ini untuk membantu para siswa tingkat akhir di Sekolah Tingat Menengah Atas  untuk menggunakan metode ilmiah dalam meneliti rantai makanan – sebuah proyek yang juga didanai oleh  Bayer Science & Education Foundation sebesar EUR 10.900.

 

Tidak hanya Martina dan Peter, para penerima beasiswa yang lain pun berkesempatan mencicipi pengalaman studi internasional yang mengesankan. Dari Jeff Schell Scholarships, ilmuwan pangan Marilia Torres Lopes berkesempatan mempelajari teknologi proses pangan di Institute of Process Engineering In Life Sciences di University of Karlsruhe. Hannes Leischner, seorang mahasiswa kedokteran, mendapatkan pengalaman intensif, baik dari segi budaya maupun kemanusiaan saat menjalani masa praktik kerja di India dan China selama empat bulan berkat Carl Duisberg Scholarship.