25 April 2016

Bayer kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan ketahanan pangan dunia

Solusi pertanian yang inovatif dapat membantu petani meningkatkan hasil panen dengan cara yang produktif, efisien, dan berkelanjutan, yang mendukung tujuan pemerintah Indonesia dalam mencapai swasembada beras

Jakarta, 25 April 2016 – Sektor pertanian sekarang menghadapi berbagai tantangan yang semakin banyak, seperti keterbatasan lahan bercocok tanam, kondisi cuaca yang ekstrim karena perubahan iklim, volatilitas pasar, kurangnya tenaga kerja serta sumber daya lainnya, dan lain-lain. Menurut Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), populasi dunia akan meningkat menjadi lebih dari 9 milyar penduduk pada tahun 2050 dan jumlah produksi pangan juga harus meningkat minimal 70 persen untuk memenuhi kebutuhan jumlah penduduk yang sepertiga lebih banyak dari saat ini.

Sehubungan dengan hal tersebut, Bayer melalui partisipasinya dalam Responsible Business Forum and Agriculture kembali menunjukkan komitmennya dalam membantu petani meningkatkan hasil panen dan produktivitas mereka, dan meningkatkan ketahanan pangan dunia melalui intensifikasi agrikultur pada lahan pertanian yang telah ada. Dengan solusi pertanian inovatif yang ditujukan membantu petani menggunakan sumber daya mereka lebih efisien, Bayer bermaksud memanfaatkan teknologi pertanian modern untuk membantu petani menghadapi tantangan masa kini.

“Bayer berkomitmen dalam investasi yang berkelanjutan di bidang riset dan pengembangan untuk menghadirkan solusi inovatif yang membantu petani dan meningkatkan ketahanan pangan dunia. Solusi inovatif kami di bidang pertanian merupakan hasil dari salah satu investasi riset dan pengembangan terbesar di industri. Selain melanjutkan inovasi kami untuk mengendalikan hama, penyakit tumbuhan, dan gulma, kami juga terus mencari bidang-bidang inovasi baru. Sebagai contoh, bibit hybrid kami dapat meningkatkan daya tahan tumbuhan terhadap kekeringan dan perendaman sebagai dampak dari El Niño dan perubahan iklim yang dihadapi sektor pertanian kita hari ini,” kata Simon-Thorsten Wiebusch, Country Group Head of Southeast Asia divisi Bayer Crop Science.

The 3rd Responsible Business Forum on Food and Agriculture merupakan acara tahunan yang mempertemukan lebih dari 350 pemimpin global dari sektor bisnis, pemerintahan, media, dan LSM untuk mendiskusikan kerja-sama antara negara ASEAN yang dapat menciptakan pertumbuhan yang merata bagi petani dan seluruh pemangku kepentingan di wilayah tersebut. Selama dua hari, para delegasi akan membahas rekomendasi untuk meningkatkan produktivitas keenam komoditas utama di wilayah ASEAN, dengan fokus meningkatkan kesejahteraan petani kecil dan mengurangi dampak lingkungan yang dihasilkan. Bayer merupakan mitra pendukung acara tersebut dan berperan di panel diskusi tentang pertanian serta kelompok kerja di bidang beras.

“Mayoritas petani di ASEAN, khususnya Indonesia, memiliki lahan yang kecil sehingga mereka seringkali tidak memiliki akses untuk peralatan, teknologi, serta pelatihan yang mereka butuhkan untuk membantu memaksimalkan hasil panen dan produktivitas mereka. Untuk itu, Bayer secara aktif berkolaborasi dengan berbagai mitra baik dari sektor publik maupun swasta untuk mendorong pertumbuhan dan memfasilitasi pertukaran keahlian, teknologi, dan sumber daya,” kata Ashraf Al-Ouf, President Director of PT Bayer Indonesia.

“Sebagai contoh, Bayer memimpin Rice Working Group di bawah kemitraan dengan Partnership for Indonesia Sustainable Agriculture (PISAgro), sebuah gerakan yang diluncurkan pemerintah Indonesia untuk mempercepat pengembangan agrikultur yang berkelanjutan di seluruh Indonesia. Kerjasama tersebut berfokus pada peningkatan efisiensi pengolahan beras yang mencakup beberapa isu seperti pelatihan petani, kekurangan tenaga kerja, ketersediaan lahan, metode penyemaian, dan manajemen pertanian. Salah satu area yang telah menjadi fokus kami adalah intensifikasi pertanian dengan menggunakan bibit hybrid dan adopsi teknologi. Berdasarkan data yang terkumpul dari proyek kami di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara, para petani mengalami peningkatan return on investment (ROI) mulai dari 7 hingga 19 persen,” tambah Ashraf Al-Ouf.

Indonesia merupakan negara penghasil beras terbesar ketiga di dunia dan pertanian beras merupakan mata pencaharian lebih dari 250 juta petani. Indonesia juga salah satu negara dengan konsumsi beras terbesar di dunia dimana beras masih menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia. Saat ini, luas lahan pertanian beras di Indonesia mencapai 13 juta hektar yang merupakan 24 persen dari total lahan agrikultur di Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menetapkan rencana untuk mewujudkan swasembada beras dan fokus pada peningkatan produktivitas dan produksi pangan untuk meraih tujuan tersebut.

Bayer: Science For A Better Life
Bayer adalah perusahaan global dengan kompetensi di bidang Life Science terkait kesehatan dan pertanian. Produk serta layanan Bayer dirancang untuk memberikan manfaat serta meningkatkan kualitas hidup manusia. Group Bayer bertujuan untuk menciptakan nilai melalui inovasi, pertumbuhan dan daya penghasilan tinggi. Sebagai korporasi, Bayer memegang teguh prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan serta tanggung jawab sosial dan etika. Pada tahun fiskal 2015, Bayer mempekerjakan sekitar 117.000 orang dengan penjualan senilai Euro 46,3 miliar. Belanja modal sebesar Euro 2,6 miliar dengan pengeluaran R & D senilai Euro 4,3 miliar. Nilai-nilai tersebut termasuk bisnis polimer berteknologi tinggi yang telah ditawarkan ke bursa saham sebagai perusahaan independen bernama Covestro, pada 6 Oktober 2015. Untuk informasi lebih lanjut silahkan kunjungi www.bayer.com.

Kontak media:
Anton Susanto
Head of Communications
PT Bayer Indonesia
Phone: +62-21-30491506
E-mail: anton.susanto@bayer.com
www.bayer.co.id and www.bayer.com

Pernyataan Perkiraan Kedepan
Rilis ini mungkin berisi pernyataan berdasarkan asumsi saat ini dan perkiraan ke depan yang dibuat oleh manajemen Bayer. Berbagai resiko, yang diketahui dan tidak diketahui, ketidakpastian, dan faktor-faktor lain dapat menyebabkan perbedaan materi antara hasil aktual di masa depan, situasi keuangan, pengembangan atau kinerja perusahaan, dan perkiraan yang diberikan di sini. Faktor-faktor ini termasuk yang dibahas dalam laporan publik Bayer yang tersedia di situs web Bayer di http://www.bayer.com/. Perusahaan tidak bertanggung jawab apa pun atas perubahan pernyataan perkiraan ke depan atau menyesuaikan dengan kejadian atau perkembangan di masa depan.