05 Oktober 2016

Bayer Indonesia Mendukung Upaya Indonesian Heart Ryhthm Society (InaHRS) meningkatkan kompetensi diagnosa aritmia untuk mengurangi kematian akibat henti jantung mendadak dalam the 4th Annual Scientifi

  • Bayer Indonesia mendukung InaHRS mengadakan pertemuan ilmiah tahunan ke-empat InaHRS (The 4th Annual Scientific Meeting Indonesia Heart Rhythm Society) tanggal 7 – 8 Oktober 2016 di Jakarta, yang akan dihadiri oleh 1000 Dokter dan pembicara ahli dari dalam dan luar negeri.
  • Topik utama the 4th Annual Scientific Meeting InaHRS adalah Meningkatkan Kompetensi Diagnosa Aritmia untuk Mengurangi Kematian akibat Henti Jantung Mendadak (“Enhance Arrhythmias Diagnosis Reduce Sudden Cardiac Death”)
  • Lebih dari 7.000.000 jiwa diperkirakan akan mengalami kematian akibat henti jantung mendadak2.

Jakarta, 5 Oktober 2016

Bayer Indonesia sebagai perusahaan berbasis life science mendukung upaya Indonesian Heart Ryhthm Society (InaHRS) dalam meningkatkan pemahaman dan pengetahuan Dokter di Indonesia melalui pertemuan ilmiah InaHRS pada tanggal 7-8 Oktober mendatang di Jakarta dengan topik utama: Meningkatkan Kompetensi Diagnosa Aritmia untuk Mengurangi Kematian akibat Henti Jantung Mendadak (“Enhance Arrhythmias Diagnosis Reduce Sudden Cardiac Death”) .

Sebanyak 17,3 juta orang di seluruh dunia meninggal setiap tahun karena penyakit kardiovaskular1. Lebih dari 7.000.000 jiwa diperkirakan akan mengalami kematian akibat henti jantung mendadak2. Perubahan diet dan gaya hidup di negara-negara berkembang juga dapat meningkatkan kejadian henti jantung mendadak3. Salah satu penyebabnya adalah gangguan irama jantung atau dikenal dengan istilah aritmia. Gangguan irama detak jantung, baik yang denyutnya menjadi lambat maupun cepat harus diperhatikan secara serius, sebab, kelainan aritmia jantung ini bisa meningkatkan risiko kematian mendadak. Untuk itu dalam pertemuan ilmiah tahunan ini InaHRS akan memberikan update terkini yang membahas topik-topik terkait aritmia seperti henti jantung mendadak, fibrilasi atrium, syncope, gagal jantung dan aritmia, device therapy, VT-SVT dan aritmia pada anak.

Presiden Direktur Bayer Indonesia, Ashraf Al-Ouf mengatakan, ”Bayer sebagai perusahaan berbasis life science berkomitmen untuk mendukung para Dokter melalui pertemuan – pertemuan ilmiah baik di dalam maupun luar negeri. Bayer banyak melakukan kerjasama dengan institusi internasional dalam bidang penelitian yang berkelanjutan dan studi klinis sehingga dapat membantu para Dokter dalam memberikan terapi kepada pasien sehingga pasien dapat memperoleh pengobatan yang tepat dan kualitas kesehatan yang baik. Untuk itu kami sangat mendukung InaHRS dalam rangka Pertemuan Ilmiah Tahunan InaHRS tahun ini. Saya yakin bahwa pertemuan ilmiah ini akan memberikan banyak manfaat bagi para Dokter terutama meningkatkan kompetensi diagnosa aritmia sehingga dapat mengurangi kematian akibat henti jantung mendadak. Upaya InaHRS ini sejalan dengan misi Bayer yaitu Science for Better Life dimana Bayer selalu melihat kebutuhan masyarakat akan tantangan kesehatan yang dihadapi dunia. Sebagai perusahaan berbasis riset dan pengembangan (R&D), Bayer telah mengeluarkan dana sebesar Rp. 41,3 trilyun untuk R&D di bidang kesehatan pada tahun 2015. Produk-produk yang baru diluncurkan telah diterima dengan baik karena dapat membantu mengobati kondisi medis yang sulit, seperti kanker, stroke, trombosis dan penyakit mata yang berhubungan dengan usia lanjut. Kedepan, kami terus berupaya menghadirkan obat-obatan yang inovatif untuk kebutuhan medis yang belum terpenuhi. Diharapkan produk-produk kami dapat memberi manfaat yang lebih besar untuk pasien di seluruh dunia dan khususnya di Indonesia.”

Populasi dunia saat berkembang dengan cepat dan menua. Diperkirakan pada tahun 2050 jumlah populasi di Asia Pasifik akan mencapai setengah dari populasi dunia atau jumlahnya mendekati 580 juta jiwa. Di wilayah ini pertambahan populasi usia 60 tahun keatas meningkat dari 12% menjadi 24% pada tahun 20504. Kondisi ini akan berdampak pada masalah kesehatan seperti kanker, kardiovaskular dan diabetes. Di wilayah Asia Pasifik, penyakit kardiovaskular akan tetap menjadi hal utama kebutuhan medis dan menjadi penyebab utama kematian di wilayah ini. Pada tahun 2015 telah terjadi sekitar 8,2 juta kasus kematian yang disebabkan penyakit kardiovaskular. Hal ini menunjukkan peningkatan 21% dari 6,8 juta pada tahun 20055.

Salah satu masalah serius bagi kesehatan jantung di Indonesia adalah Fibrilasi atrium dimana jumlah pasien terus meningkat di masa yang akan datang. Gagal jantung dan stroke merupakan komplikasi FA paling sering terjadi yang dapat mengakibatkan  disabilitas  berat dan permanen. Walaupun lebih banyak terjadi pada usia lanjut, tetapi proporsi FA yang bermakna dapat terjadi pada usia muda. Menurut data dari studi observasional (MONICA – multinational MONItoring of trend and determinant in Cardiovascular disease) pada populasi urban di Jakarta menemukan angka kejadian FA sebesar 0,2% dengan rasio laki-laki dan perempuan 3:26. Selain itu,karena terjadi peningkatan signifikan persentase populasi usia lanjut di Indonesia yaitu 7,74% (pada tahun 2000 – 2005) menjadi 28,68% (estimasi WHO tahun 2045 – 2050)7, maka angka kejadian FA juga akan meningkat secara signifikan. Sementara itu, data di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita menunjukkan bahwa persentase kejadian FA pada pasien rawat selalu meningkat setiap tahunnya, yaitu 7,1% pada tahun 2010, meningkat menjadi 9,0% (2011), 9,3% (2012) dan 9,8% (2013).

Bayer: Science For A Better Life
Bayer adalah perusahaan global dengan kompetensi di bidang Life Science terkait kesehatan dan pertanian. Produk serta layanan Bayer dirancang untuk memberikan manfaat serta meningkatkan kualitas hidup manusia. Group Bayer bertujuan untuk menciptakan nilai melalui inovasi, pertumbuhan dan daya penghasilan tinggi. Sebagai korporasi, Bayer memegang teguh prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan serta tanggung jawab sosial dan etika. Pada tahun fiskal 2015, Bayer mempekerjakan 117.000 orang dengan penjualan senilai Euro 46,3 miliar. Belanja modal sebesar Euro 2,6 miliar dengan biaya R&D senilai Euro 4,3 miliar. Nilai-nilai tersebut termasuk bisnis polimer berteknologi tinggi yang telah ditawarkan ke bursa saham sebagai perusahaan independen bernama Covestro pada tanggal 6 Oktober 2015. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan kunjungi www.bayer.com atau www.bayer.co.id.

Media Contact:
Anton Susanto
Head of Communications
PT Bayer Indonesia
Phone: +62-21-30491506
E-mail: anton.susanto@bayer.com

Pernyataan Perkiraan Kedepan
Rilis ini mungkin berisi pernyataan berdasarkan asumsi saat ini dan perkiraan yang dibuat oleh Grup Bayer atau manajemen subkelompok ke depan. Berbagai resiko, ketidakpastian dan faktor-faktor lain dapat menyebabkan perbedaan materi antara hasil aktual di masa depan, situasi keuangan, pengembangan atau kinerja perusahaan dan perkiraan yang diberikan di sini. Faktor-faktor ini termasuk yang dibahas dalam laporan publik Bayer yang tersedia di situs web Bayer di www.bayer.com. Perusahaan tidak bertanggung jawab apa pun atas perubahan pernyataan berwawasan ke depan atau kejadian masa depan atau perkembangan.

 

Referensi:

  1. American Heart Association: 2015 Heart Disease and Stroke Statistics Update
  2. Myerburg, R.J. (2001) Sudden Cardiac Death: Exploring the Limits of Our Knowledge. Journal of Cardiovascular Electrophysiology, 12, 369. http://dx.doi.org/10.1046/j.1540-8167.2001.00369.x
  3. Mehra, R. (2007) Global Public Health Problem of Sudden Cardiac Death. Journal of Electrocardiology, 40, S118- S122. http://dx.doi.org/10.1016/j.jelectrocard.2007.06.023
  4. United Nations Department of Economic and Social Affairs/Population Division World Population Prospects: The 2015 Revision, Key Findings and Advance Tables.
  5. Asia - Differentiated Products Needed To Leverage The Cardiovascular Disease Segment. BMI research report, February 12, 2016.
  6. Setianto B, Malik MS, Supari SF. Studi aritmia pada survei dasar MONICA-Jakarta di Jakarta Selatan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI 1998.
  7. RI PDdIKK. Gambaran kesehatan usia lanjut di Indonesia. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan 2013