26 Maret 2014

Bayer Indonesia Luncurkan Opsi Pengobatan Terbaru Untuk Degenerasi Makula Tipe Basah (Wet Age-Related Macular Degeneration)

PT Bayer Indonesia – Bayer HealthCare Pharmaceuticals secara resmi meluncurkan VEGF Trap Eye; Aflibercept sebagai opsi pengobatan terbaru untuk Degenerasi Makula tipe basah (Wet Age-Related Macular Degeneration or Wet AMD) dalam suatu forum edukasi media hari ini di Jakarta.

Degenerasi Makula tipe basah adalah penyebab utama kehilangan penglihatan pada orang-orang berusia di atas 50. Hal ini terjadi karena rusaknya bagian tengah retina yang dikenal sebagai “makula“. Retina adalah jaringan saraf yang peka terhadap sinar dan terletak di mata bagian belakang. Kelainan ini sering terjadi seiring bertambahnya usia seseorang. Bentuk “basah“ atau “wet“ dari degenerasi makular terjadi karena pertumbuhan tidak normal dari pembuluh darah dari koroid yang terletak di bawah makula. Pertumbuhan yang tidak normal ini akan menyebabkan pembuluh darah yang terbentuk lebih rapuh dan mudah pecah. Pecahnya pembuluh darah ini membuat darah dan cairan mengalir ke retina dan menyebabkan distorsi penglihatan yang membuat garis lurus tampak bergelombang, serta mengakibatkan titik buta (blind spot) dan hilangnya penglihatan di bagian tengah. Pembuluh darah yang tidak normal ini akan menyebabkan jaringan parut dan akhirnya dapat terjadi kebutaan total.


Sebagai bagian dari komitmen untuk menyediakan kehidupan yang lebih baik dengan meningkatkan kualitas hidup manusia, Bayer memperkenalkan VEGF Trap Eye; Aflibercept sebagai pilihan pengobatan terbaru untuk wet AMD. VEGF Trap Eye; Aflibercept dalam studi yang dibandingkan dengan pengobatan standar yang ada, memperlihatkan dengan jumlah penyuntikan yang lebih sedikit, tetapi memberikan efikasi yang sama dengan pengobatan standar.


Dengan bertumbuhnya jumlah populasi lanjut usia (lansia) maka diperkirakan jumlah penderita wet AMD juga akan meningkat. Di tahun 2010, penduduk Indonesia yang berusia di atas 50 tahun telah mencapai 18,1 juta atau 9,6 persen dari total populasi. Hal ini menempatkan Indonesia diantara 5 besar negara dengan populasi lansia terbanyak. Pemerintah Indonesia telah memprediksi bahwa di tahun 2025 angka ini akan bertambah menjadi 36 juta. Meningkatnya populasi lansia mengindikasikan bahwa akan ada beberapa kondisi kesehatan yang harus dicermati dan membutuhkan dukungan para ahli medis agar kualitas hidup dan produktivitas mereka tetap terjaga.


“Sebagai perusahan yang mendukung inovasi berbasis penelitian, Bayer ingin membantu dan meningkatkan kehidupan masyarakat untuk dapat menjawab tantangan besar saat ini – meningkatnya jumlah populasi dunia, masyarakat yang semakin tua dan bagaimana mendukung perbaikan kualitas hidup melalui penyediaan pengobatan yang efisien bagi pasien,“ papar Ashraf Al-Ouf, Country Head Bayer Healthcare Indonesia.


Di antara semua indeks indikasi kesehatan, masyarakat Indonesia (terutama para lansia), keadaan mengidap kolesterol tinggi, penglihatan yang menurun, stroke, wabah flu, dan nyeri sendi/arthritis dianggap sebagai ancaman terbesar bagi kesehatan mereka. Berkurangnya penglihatan dianggap sebagai ancaman paling menakutkan oleh 20 persen dari populasi, lebih tinggih dari kanker (13 persen), serangan jantung (13 persen), wabah flu (17 persen), dan stroke (19 persen). Berkurangnya penglihatan dianggap sama menakutkannya dengan kolesterol tinggi (21 persen).


Untuk mencegah dampak fatal dari berkurangnya pengelihatan, perlu dilakukan deteksi dini pada masyarakat. Masyarakat dapat memeriksa sendiri daya lihat mereka untuk kemungkinan adanya wet AMD. Pemeriksaan yang dilakukan sendiri di rumah ini menggunakan alat uji sederhana yang dikenal sebagai Amsler Grid. Adanya gambar garis yang bergelombang atau distorsi, menandakan adanya kelainan pada mata. Dengan deteksi dini dan pengobatan wet AMD segera setelah terdeteksi dapat membantu mengurangi kebutaan dan dapat menjaga atau bahkan meningkatkan daya lihat.


Pengobatan VEGF Trap Eye; Aflibercept dari Bayer diawali dengan 1 injeksi setiap bulan untuk 3 dosis secara berurutan, diikuti dengan 1 injeksi setiap dua bulan. Tidak diperlukan pengawasan diantara setiap injeksi yang dilakukan.