16 Maret 2016

Delegasi Australia mengunjungi Pusat Penelitian Pengendalian Gulma milik Bayer global:

Bayer dan Grains Research & Development Corporation merayakan peluncuran Kemitraan Inovasi Herbisida

Masalah resistensi gulma makin meningkat dan mengancam produksi tanaman global / Kemitraan ini akan memberikan solusi pengendalian gulma inovatif untuk pertanian global / Program post-doc mendukung pembangunan kapasitas dalam komunitas riset Australia

Monheim, 9 Maret 2016 - Bayer merayakan kunjungan pertama delegasi tingkat tinggi dari Australian Grains Research & Development Corporation (GRDC) di Frankfurt, pusat konsentrasi kegiatan penelitian pengendalian gulma milik perusahaan secara global. Pada Juni tahun lalu, kedua perusahaan telah menandatangani Herbicide Innovation Partnership (Kemitraan Inovasi Herbisida), sebuah kerjasama inovatif untuk bersama-sama menemukan solusi pengendalian gulma generasi mendatang. Perjanjian lima tahun senilai AUD 45 juta ini melibatkan 39 ilmuwan, yang sekarang sedang bekerja di laboratorium Bayer di Frankfurt. Selain menyambut para ilmuwan, Bayer dan GDRC juga meresmikan laboratorium penelitian baru di Frankfurt. Fasilitas, yang baru saja direnovasi, ini memiliki area seluas sekitar 1.100 m2, dilengkapi dengan laboratorium dan area perkantoran untuk menaungi 30 ahli kimia dan teknisi laboratorium, termasuk sebelas peneliti postdoctoral baru dari Australia dan Selandia Baru, yang menemukan solusi melawan gulma.

 

Di hadapan Konsul Jenderal Australia David C. Campbell dan Profesor Stephen Powles, Direktur Herbicide Resistance Initiative Australia, Bayer, dan perwakilan GDRC saling bertukar pengalaman serta membahas perkembangan dan tantangan terbaru terkait pengendalian gulma secara global. Salah satu fokus utama dari diskusi ini berhubungan dengan peningkatan gulma tahan herbisida secara dramatis di seluruh dunia. Dalam 15 tahun terakhir, resistensi gulma global telah meningkat sebesar 60 persen sehingga seperempat dari gulma yang terburuk dan paling umum sudah resisten. Pada saat yang sama, tidak ada tipe herbisida baru yang telah ditemukan atau diharapkan untuk bisa ditemukan dalam waktu dekat.

 

"Kami yakin bahwa model kerjasama seperti kemitraan antara GDRC dan Bayer akan membuat perbedaan dalam pertempuran melawan gulma," kata Liam Condon, anggota Board of Management Bayer AG dan Kepala Divisi Crop Science. "Dengan adanya tantangan untuk meningkatkan produktivitas dan produksi tanaman yang berkelanjutan, berkolaborasi untuk mempercepat kegiatan penelitian ini merupakan hal yang lebih penting. Hal ini sangat meningkatkan peluang keberhasilan kita."

 

"Kami sangat senang berada di Frankfurt untuk merayakan tonggak penting dalam Herbicide Innovation Partnership ini," ujar Richard Clark, Ketua GDRC. "Petani secara konsisten telah mengatakan kepada kami bahwa menangani gulma yang resisten dan tidak terkontrol adalah masalah terbesar bagi mereka. Dengan menyoroti pentingnya tantangan ini, melalui panel regional dan kelompok solusi tanaman, petani telah mempengaruhi fokus penelitian GDRC dan perusahaan inovasi global Bayer secara langsung, demi kepentingan kelompok petani lokal mereka. Kami menghargai petani kita dan juga pihak industri atas dukungannya dalam kolaborasi ini. Kami percaya kemitraan ini akan menempatkan pertanian Australia di garis depan dalam menanggulangi resistensi terhadap herbisida."

 

Resistensi herbisida adalah masalah yang terus meningkat di Australia dan di seluruh dunia

 

Gulma adalah alasan utama dalam kerugian tanaman secara global, menyebabkan biaya manajemen yang tinggi dan mengancam ketahanan pangan. Di Australia, resistensi herbisida dimulai sekitar 30 tahun yang lalu. Evolusi yang cepat dari gulma tahan herbisida, seperti ryegrass, lobak liar, dan lain-lain, mengancam produksi gandum Australia. Masalah serupa di bidang pertanian di Eropa disebabkan oleh gulma rumput multiresisten, seperti rumput hitam dan gandum liar. Karena itu, cara baru, seperti molekul herbisida terbaru yang bersifat melawan resistensi, sangat diperlukan.

 

"Kemitraan antara Bayer dan GDRC ini sangat baik," kata Profesor Stephen Powles, Direktur Herbicide Resistance Initiative Australia. "Dunia membutuhkan herbisida baru serta pengetahuan dan pemahaman terkait resistensi herbisida yang mutakhir untuk membantu kami mengurangi, mengelola, dan meminimalkan resistensi herbisida."

 

Tantangan resistensi gulma terhadap herbisida telah mempengaruhi ilmu tentang gulma dengan mempengaruhi pandangan tentang praktik pengelolaan gulma yang berkelanjutan, pencarian cara penanganan baru, pengembangan herbisida baru, dan bagaimana ilmuwan gulma perlu dilatih dan terhubung dalam komunitas global yang terdiri dari petani, ahli agronomi, dan peneliti.

 

Program post-doc membantu memperluas pengetahuan ilmiah

 

Kerjasama antara Bayer dan GDRC mencakup program post-doc yang akan membantu memperluas pengetahuan ilmiah bagi peneliti Australia, dengan memberikan pelatihan dalam teknik penelitian industri maju. Sembilan ahli kimia postdoctoral dari Australia dan dua dari Selandia Baru, dengan masa kontrak kerja selama dua tahun, telah bekerja di pusat penelitian gulma milik Bayer di Frankfurt dan berfokus pada proyek-proyek penelitian yang menjanjikan di bidang kimia, biokimia dan biologi.

 

Manajemen Gulma Terpadu: pendekatan global Bayer untuk pengendalian gulma

 

Di luar kemitraan tersebut, Weed Resistance Competence Center (WRCC) di Frankfurt am Main menjadi landasan lain dari strategi global Bayer untuk memerangi resistensi gulma. The WRCC bekerja sama dengan sejumlah badan ilmiah seperti Australian Herbicide Resistance Initiative (AHRI) dan Australian Research Council (ARC). WRCC kini merupakan bagian integral dari pendekatan ilmiah Bayer untuk Manajemen Gulma Terpadu (Integrated Weed Management/IWM) dan mejadi pelengkap yang sempurna bagi kolaborasi strategis baru dengan GRDC.

 

Program IWM menawarkan beragam solusi bagi petani terkait pengendalian gulma melalui penyediaan benih mutakhir, produk perlindungan tanaman, dan berbagai layanan seperti alat diagnostik dan model prediksi. Program ini mengedepankan praktik manajemen terbaik dalam inisiatif lokal.

 

Dapatkan informasi lebih lanjut tentang Program IWM Bayer di sini:

http://www.cropscience.bayer.com/en/Commitment/Integrated-Weed-Management/Press-Section.aspx

 

Bayer: Science For A Better Life

Bayer adalah perusahaan global dengan kompetensi di bidang Life Science terkait kesehatan dan pertanian. Produk serta layanan Bayer dirancang untuk memberikan manfaat serta meningkatkan kualitas hidup manusia. Group Bayer bertujuan untuk menciptakan nilai melalui inovasi, pertumbuhan dan daya penghasilan tinggi. Sebagai korporasi, Bayer memegang teguh prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan serta tanggung jawab sosial dan etika. Pada tahun fiskal 2014, Bayer mempekerjakan 119.000 orang dengan penjualan senilai Euro 42,2 miliar. Belanja modal sebesar Euro 2,5 miliar dengan biaya R & D senilai Euro 3,6 miliar. Nilai-nilai tersebut termasuk bisnis polimer berteknologi tinggi yang telah ditawarkan ke bursa saham sebagai perusahaan independen bernama Covestro, pada 6 Oktober 2015. Untuk informasi lebih lanjut silahkan kunjungi www.bayer.com.

 

Pernyataan Perkiraan Kedepan 


Rilis ini mungkin berisi pernyataan berdasarkan asumsi saat ini dan perkiraan ke depan yang dibuat oleh manajemen Bayer. Berbagai resiko, yang diketahui dan tidak diketahui, ketidakpastian, dan faktor-faktor lain dapat menyebabkan perbedaan materi antara hasil aktual di masa depan, situasi keuangan, pengembangan atau kinerja perusahaan, dan perkiraan yang diberikan di sini. Faktor-faktor ini termasuk yang dibahas dalam laporan publik Bayer yang tersedia di situs web Bayer di www.bayer.com. Perusahaan tidak bertanggung jawab apa pun atas perubahan pernyataan perkiraan ke depan atau menyesuaikan dengan kejadian atau perkembangan di masa depan.

 

Sumber: http://www.news.bayer.com/baynews/baynews.nsf/id/Bayer-Grains-Research-Development-Corporation-celebrate-launch-Herbicide-Innovation-Partnership?Open&parent=news-overview-category-search-en&ccm=020