07 Mei 2015

Ashraf Al-Ouf, Presiden Direktur Bayer Indonesia

Bayer merupakan perusahaan global dengan pengalaman selama 152 tahun yang berfokus pada bidang perawatan kesehatan, pertanian, dan bahan polimer berkualitas tinggi. Bayer telah berada di Indonesia sejak tahun 1920-an dan menjadi sebuah entitas sejak akhir 1950-an.

Ashraf Al-Ouf, Presiden Direktur Bayer di Indonesia, yang juga baru diangkat sebagai Wakil Ketua International Pharmaceutical Manufacturer Group di Indonesia.

 

Ashraf, berkewarganegaraan Yordania, telah bekerja bersama Bayer selama hampir 20 tahun di sektor kesehatan di beberapa negara yang berbeda, termasuk Yordania, Jerman, Australia, Malaysia, dan sekarang untuk kedua kalinya, di Indonesia.

 

Bloomberg TV Q & As

 

Bagaimana kinerja Bayer Indonesia pada tahun lalu?

 

Tahun lalu performa kami terbilang baik. Kami mencatat pendapatan bersih sebesar Rp 2,3 triliun dengan capaian Laju Pertumbuhan Majemuk Tahunan sebesar hampir 11% dalam 5 tahun terakhir.

 

Namun, ini masih terbilang kecil apabila dilihat dari seluruh bisnis Bayer secara umum.

Tahun lalu, penjualan umum Bayer adalah EUR 42 miliar dengan Pengeluaran Modal sebesar EUR 2,5 miliar dan R & D EUR 3,6 miliar. 

Dengan demikian, bisnis kami di Indonesia hanya berkontribusi sebesar 0,6% dari bisnis Bayer Global. Banyak pertumbuhan yang harus dicapai dan saya yakin kami akan bisa mengembangkan bisnis Bayer di Indonesia.

 

Menurut fakta-fakta tersebut, bagaimana Anda melihat bisnis di tahun 2015? Apakah ada target untuk kinerja perusahaan? Bagaimana dengan pertumbuhan dua digit?

 

Bisnis di Indonesia tahun ini akan penuh dengan potensi dan tantangan. Tahun lalu, industri farmasi di Indonesia tumbuh sebesar satu digit, sementara kami di Bayer berhasil mencapai pertumbuhan dua digit. Bagi kami ini adalah kunci mengelola kinerja kami: memastikan bahwa kami dapat tumbuh melebihi pertumbuhan pasar secara berkelanjutan.

Meskipun perkiraan bisnis di Indonesia tahun ini memprediksi adanya perlambatan, namun tetap diperkirakan adanya pertumbuhan sekitar 5% dalam GDP. Mengingat ukuran perekonomian negara Indonesia, ini merupakan pertumbuhan yang sangat besar.

 

Apakah strategi Anda untuk memenangkan persaingan di antara perusahaan-perusahaan lain?

 

Pertumbuhan kami didasarkan pada megatrend dan kebutuhan global. Hal-hal ini termasuk:

  • Populasi dunia yang semaking meningkat dan bertambah tua —yang juga berarti akan meningkatnya kebutuhan untuk layanan kesehatan;
  • Perubahan pola makan pada kelas menengah, yang semakin bertambah, di negara-negara berkembang, yang mengarah pada peningkatan permintaan daging dan produk susu;
  • Penurunan lahan pertanian per kapita, padahal terdapat peningkatan permintaan untuk pangan dan energi;
  • Kenaikan harga dan tekanan biaya pada industri kesehatan dan pertanian untuk mengolah produk mereka, sehingga ada kebutuhan mendesak untuk inovasi dan peningkatan produktivitas.

 

Pernyataan misi kami adalah "Bayer: Science For A Better Life "

Kami berpegang teguh pada pernyataan ini, karena kami memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk membantu orang di seluruh dunia, termasuk Indonesia, untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Kami melakukan ini dengan memfokuskan kompetensi inti dalam bidang pengembangan dan berhasil mengkomersialisasikan solusi dan produk-produk inovatif berdasarkan pengetahuan ilmiah.

 

Sebagai contoh, kami memiliki produk farmasi yang tidak dimiliki orang lain seperti obat kanker hati dan penyakit mata. Sebagai pemimpin pasar, kami baru saja meluncurkan kontrasepsi oral yang baru, dan cocok dengan sifat alami tubuh wanita dengan begitu baik, sehingga memungkinkan mereka untuk mempertahankan stamina dan aktif sepanjang hari. Kami juga baru saja meluncurkan produk baru yang membantu meringankan gejala flu tanpa menyebabkan kantuk di siang hari dan membantu beristirahat di malam hari.

 

Kami memiliki produk untuk  pasar AnimalHealth, yang membantu unggas dan peternak susu lebih produktif, juga produk CropScience yang membantu petani meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panennya. Selain itu, kami juga pemasok utama produk dasar MaterialScience, dari kursi mobil hingga lemari es, sepatu, dan botol plastik yang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bagaimana dengan anggaran belanja Anda?

Apakah ada ekspansi bisnis atau rencana membangun pabrik baru untuk mengembangkan pabrik yang ada sekarang?

 

Kami melihat Indonesia tidak hanya sebagai pasar utama, melainkan juga sebagai lokasi fasilitas produksi yang utama. Di Indonesia, kami memiliki dua pabrik kelas dunia. Fokus utama kami semata-mata adalah memperluas dua fasilitas ini.

 

Salah satunya adalah pabrik HealthCare di Cimanggis, di mana kami telah menanamkan investasi sebesar lebih dari EUR 60 juta dalam beberapa tahun terakhir. Selanjutnya, kami akan berinvestasi sebesar EUR 8,1 juta di tahun ini. Pabrik ini merupakan bagian dari jaringan global Bayer untuk memfasilitasi produksi HealthCare merek global, yang akan diekspor ke 26 pasar utama di seluruh dunia pada tahun mendatang, dan dalam jumlah yang akan bertambah pada tahun-tahun berikutnya. Beberapa dari pasar yang kami tuju, memiliki peraturan kesehatan paling ketat, sehingga apabila kami mampu mengekspor ke mereka, berarti kami berhasil melewati setiap tahapan audit yang diwajibkan.

 

Beberapa negara yang menjadi tujuan ekspor:

Kamboja

Australia

Austria

Uni Emirat Arab

Amerika Serikat

Hong Kong

Selandia Baru

Hongaria

  

 

Korea

 

Romania

  

 

Malaysia

 

Swedia

  

 

Filipina

 

Turki

  

 

Singapura

 

Inggris

  

 

Taiwan

 

Finlandia

  

 

Thailand

    

 

Vietnam

China

    

 

 

Beberapa merek utama produk Consumer Care utama yang diproduksi di pabrik Cimanggis adalah:

Berocca

Redoxon

Saridon

Elevit

Supradyn

Aspirin

CDR

Canesten Powder

 

Kami juga sangat bangga dengan pabrik CropScience berkelas dunia kami yang ada di Surabaya. Pabrik di Surabaya memproduksi produk perlindungan tanaman, biji-bijian, dan produk lingkungan yang didistribusikan di Indonesia, daan sebagian besar diekspor ke Malaysia, Filipina, Taiwan, Australia dan Thailand, China, Bangladesh, dan Pakistan.

 

Kami juga berinvestasi untuk pabrik ini, dan pada pertengahan tahun ini kami akan memiliki Pusat Pembibitan (Seed Growth Centre).  Pusat Pembibitan ini akan menjadi tempat untuk meningkatkan kualitas benih dari perusahaan pelanggan kami dengan teknologi perlindungan tanaman yang kami miliki, sehingga benih-benih tersebut menjadi lebih tahan penyakit dan cuaca ekstrim, yang pada akhirnya akan memberikan hasil panen terbaik bagi para petani.

 

Untuk saat ini, kami hanya akan berfokus pada Indonesia dan pada tanaman jagung saja.  Kelak, pada tahun 2018, kami juga akan menangani tanaman padi dan memperluas cakupan daerah, termasuk seluruh Asia Tenggara. Pusat Pembibitan di pabrik Surabaya, ditargetkan menjadi bagian utama dari jaringan fasilitas Bayer CropScience, yang akan melayani kebutuhan seluruh negara di dunia.

                        

Produk-produk BCS meliputi:

 

Crop Protection

Insektisida

Fungisida

Herbisida

Perawatan Benih

 

Crop Science

Benih untuk pertanian (beras)

 

Environmental Science

Produk untuk Profesional

Produk untuk Konsumen

Kami bekerja sama dengan perkebunan kelapa sawit di seluruh negeri untuk perlindungan tanaman mereka. Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia, juga produk-produk seperti Basta, Decis, dan yang baru diperkenalkan (2013) Becano (indaziflam) memberikan solusi terbaik berkelanjutan untuk mendapatkan hasil optimal.

Kami tahu bahwa fokus Anda di tahun ini adalah di farmasi dan CropScience. Tahun lalu merupakan tahun yang berat bagi industri Farmasi. Pendapatan di sektor ini turun hingga rata-rata 5%. Lantas, bagaimana pendapat Anda mengenai bisnis ini sekarang? Apakah ada produk baru untuk tahun ini?

 

  • Anggaran Belanja Indonesia di sektor kesehatan masih menjadi salah satu yang terendah.
  • Indonesia akan mengalami reformasi besar-besaran dalam bidang pelayanan kesehatan masyarakat dengan adanya BPJS dan JKN.
  • Saat ini, JKN melayani sekitar 130 juta penduduk Indonesia. Pada 2019, pemerintah menargetkan JKN untuk mencakup seluruh rakyat Indonesia – yang jumlahnya lebih dari 260 juta orang. Ini adalah peluang bisnis bagi industri farmasi. Dengan demikian, agar kita dapat tumbuh, kita harus menyesuaikan diri dengan pasar, mengadopsi dan beradaptasi dengan perubahan adalah kunci untuk sukses di sektor farmasi Indonesia.

 

Mengenai Bayer Crop Science, apa tujuan Anda untuk tahun ini? Kita tahu bahwa BayerCropScience telah memiliki kesepakatan kerjasama untuk Pertanian yang Berkelanjutan di Indonesia. Apa maksud dari program ini? Apa tujuan dan sasarannya?

 

Negara-negara berkembang memiliki sistem ekonomi yang paling cepat berkembang di dunia, namun juga merupakan rumah bagi populasi miskin dan kurang gizi – bahkan di China, India, dan Brasil, 30% dari total penduduk hidup di bawah garis kemiskinan dan kelaparan.

Sekitar 870 juta orang di dunia menderita kelaparan saat ini – setengah dari mereka terlibat langsung dalam bidang pertanian. Sebanyak 90% dari para petani hanya menggarap lahan pertanian kurang dari 2 hektar. Mereka tidak memiliki akses terkait teknologi, tata laksana bertani, dan pelatihan.

Agar para petani kecil mampu bersaing di tingkat global, mereka harus diberikan dukungan yang spesifik. Dengan saran yang tepat serta praktek agronomi yang berkelanjutan, para petani ini dapat meningkatkan hasil panen mereka secara signifikan dalam satu musim panen, seperti yang telah berhasil dilakukan oleh petani di Jawa Tengah yang bermitra dengan kami.

 

Ini merupakan alasan Bayer CropScience menjadi salah satu pendiri PISAgro, kemitraan publik-swasta yang membantu para petani kecil Indonesia meningkatkan produktivitas dan pendapatan mereka.

 

Di PISAgro, Bayer CropScience adalah ketua Rice Working Group (kelompok kerja padi).

Melalui program kami, petani padi di Jawa Tengah yang dibantu oleh Bayer CropScience berhasil meningkatkan kuantitas dan kualitas tanaman padi secara konsisten, sehingga mereka berhasil mendapatkan tambahan penghasilan sebesar Rp 15 juta per hektar, dengan kata lain, rata-rata mereka mendapatkan pendapatan bersih sekitar Rp 45-50 juta per hektar.

 

Para petani kecil ini bekerja sama dengan Bayer CropScience, dan berhasil meningkatkan hasil pertanian mereka secara konsisten sebesar 0,9 ton per hektar, sedikit di bawah target Presiden Indonesia, yaitu sebesar 1 ton per hektar. Saya yakin bahwa petani mitra kami akan segera melampaui target tersebut.

 

Cakupan yang akan menjadi fokus Bayer CropScience, meliputi

• 40.000 hektar pada tahun 2015 dan

• 800.000 hektar pada tahun 2020

• Target petani binaan 120.000 orang pada tahun 2015 dan

• 2,6 juta petani padi pada tahun 2020

 

11 Kelompok Kerja

7 Anggota Pendiri

9 Anggota Rekan

8 Anggota Umum

Cokelat

BCS

The Australian Govt

BT Cocoa

Kopi

Indofood

Bank Mandiri

Dupont

Jagung

McKinsey & Company

Cargill

East West

Susu

Nestle

Gunung Sewu Kencana

Mercy Corps Indonesia

Kelapa Sawit

Sinarmas

IDH

Monsanto

Kentang

Syngenta

Int’l Finance Corporation

Swiss Contact

Padi

Unilever

Kirana Megatara Group

Louis Dreyfus Commodities

Karet

 

The Rabobank Group

BASF

Kacang Kedelai

 

TPS Food

 

Holtikultura

 

 

 

Agri-Finance

 

 

 

 

Potongan slide presentasi Dr Dekkers mengenai BMS:

http://press.bayer.com/baynews/baynews.nsf/id/9U4CGR-Address-by-Dr-Marijn-Dekkers?Open&parent=Speeches&ccm=040

 

 

"Sekarang mari kita kembali pada rencana flotasi pasar saham untuk MaterialScience, yang masih akan diterapkan paling lambat hingga pertengahan 2016. Kini kami telah menyelesaikan fase desain untuk menentukan struktur hukum dan organisasi di masa mendatang. Tugas kami dalam beberapa bulan ke depan adalah menerapkan desain ini. Kami juga telah membuat keputusan mengenai posisi manajemen kunci.”

 

“Tonggak penting berikutnya dalam proses ini adalah pemisahan di bidang ekonomi dan hukum – atau pemisahan MaterialScience. Hal ini harus diselesaikan pada akhir Agustus. Pada paruh kedua tahun ini, kami berniat untuk memutuskan memilih kemungkinan variasi yang ada untuk flotasi pasar saham: apakah berupa IPO (Penawaran Umum Perdana) atau spin-off (demerger perusahaan)".