07 September 2015

Kesan dan Pesan Para Pelajar yang Mewakili Indonesia di Ajang Youth AG-Summit 2015

Nama: Dendy Primanandi
Tgl Lahir:  4 Januari 1991
Mahasiswa S2Jurusan Teknik Lingkungan, ITB
Asal daerah: Banjarmasin, Kalsel

 


Menjadi salah satu dari enam delegasi terpilih Indonesia dalam program Youth Ag Summit 2015, memberikan perasaan terharu, bangga dan gembira bagi saya pribadi. Tidak pernah saya sangka sebelumnya bahwa dari sebuah ide yang ingin saya berikan untuk Indonesia ternyata membawa saya dalam pengalaman sekali seumur hidup dalam sebuah konferensi Internasional yang dilaksanakan di Canberra, Australia.

 

Sebelum menceritakan lebih lanjut tentang program Youth Ag Summit 2015, saya dan teman-teman terpilih diberikan kesempatan untuk belajar dan melihat langsung bagaimana kehidupan pertanian Indonesia. Kabupaten Sragen, Jawa Tengah menjadi salah satu media bagi saya dan teman-teman untuk merasakan dan mendapatkan ilmu yang tentunya sangat bermanfaat khususnya dalam hal pertanian.

 

Dari 6 delegasi terpilih Indonesia, kami dibagi menjadi 3 grup (masing-masing terdiri dari2 orang). Saya mendapatkan rekan dari Bekasi yaitu Febri Aditya (Pepi). Kami tinggal bersama keluarga pak Joko selama kurang lebih 5 hari.
Belum pernah saya melihat langsung bagaimana suasana dan keadaan dari para petani yang bertani di desanya, karena memang background saya yang memang bukan dari pertanian. Namun setelah menjalani kehidupan bersama keluarga pak joko yang mata pencaharian hidupnya adalah bertani, saya menyadari bahwa saya betul-betul bangga dengan keluarga mereka serta membuat pandangan dan pikiran saya menjadi lebih dalam terhadap sektor pertanian. Betapa sedih ketika melihat orang-orang yang ketika makan menyisakan banyak makanan dan dibuang begitu saja tanpa pernah tau bahwa terdapat nilai yang begitu berharga dalam sebutir padi/beras.

 


Dari pengalaman ini kedepan saya ingin lebih banyak mempelajari tentang aspek-aspek yang terkait pertanian dan memberikan inspirasi serta edukasi pada masyarakat agar menyadari bahwa masalah pangan bukan hal yang sepele. Bahkan menjadi prioritas utama untuk dipikirkan bersama dan mencari berbagai macam cara untuk meningkatkannya.
Tanggal 22 Agustus 2015 tepatnya pukul 23.40 WIB kami memulai perjalanan kami sebagai 6 delegasi terpilih Indonesia untuk berangkat ke Canberra, Australia. Persiapan yang kami lakukan pun juga tentunya selalu kami maksimalkan. Perasaan haru sekaligus bangga tak bisa dipungkiri, karena selain saya dan teman-teman akan mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat serta pengalaman berharga, saya juga sangat senang sekali karena mendapatkan teman-teman yang luar biasa sebagai sesama delegasi Indonesia. Saya merasa sangat dekat dengan teman-teman dan mentor kami karena memang dari hari-hari sebelum keberangkatan kami sharing bersama melalui media sosial yaitu grup Line.

 


Pengalaman selama mengikuti summit begitu luar biasa bagi saya karena mendapatkan ilmu dari para ahli, praktisi bisnis, volunteer, pengalaman dari kunjungan lapangan, dan juga dari diskusi bersama teman-teman. Menurut saya program ini sangat baik, disamping para narasumber yang kompeten, juga jadwal kegiatan yang sangat rapih dan dikemas dalam konsep berbasis teknologi sehingga memudahkan para delegasi untuk mengikuti semua rangkaian program dengan baik.

 


Kedepannya, tentu menjadi semakin banyak ide dan implementasi dari projek yang direncanakan. Dari ilmu yang saya dapatkan selama program Summit di Canberra, saya ingin membaut konsep unik bersama teman-teman organisasi saya yaitu Green Ambassador Association & Earth Hour Banjarmasin. Bersama dua organisasi ini dimana saya masih aktif sebagai ketua, maka saya memikirkan untuk mencoba membuat program Youth Ag summit skala regional. Namun tidak menutup kemungkinan pula, bersama delegasi Indonesia lainnya yaitu Iqbal, Pepi, Amanda, Amy, Aan dan juga bang Indra sebagai mentor kami, saya merencanakan Youth Ag Summit skala nasional dimana konsepnya kurang lebih mirip dengan Summit yang telah kami jalani selama di Australia seperti mendatangkan narasumber, kunjungan lapangan, sesi diskusi, rangkaian acara silaturahmi (makan malam) dan bahkan berkemah di lapangan pertanian. Target saya adalah menginspirasi sebanyak-banyaknya pemuda-pemuda dan generasi penerus bangsa masa depan untuk bersama-sama memikirkan solusi serta peduli pada permasalahan pangan dunia.

 


Selama summit tidak hanya ilmu yang saya dapatkan, tapi juga persahabatan bersama delegasi-delegasi lain dari 33 Negara. Yang pertama adalah ketika pada malam Welcoming Dinner, satu persatu saya berkenalan langsung dengan mereka (walaupun sebagian besar saya sudah mengenal mereka karena telah aktif berinteraksi via facebook sebelumnya) dan ketika bertemu dengan salah satu delegasi dari Jepang yaitu Ikuho, saya betul-betul kaget dan senang ketika mengetahui ternyata ikuho pernah menjadi salah satu local youth dari program SSEAYP (Ship for Southeast Asian & Japanese Youth Program). Program ini adalah salah satu program yang pernah saya ikuti di tahun 2014 dan membuat saya sebagai bagian negara ASEAN yang memiliki persahabatan erat dengan negara Jepang layaknya seperti keluarga.

 


Kemudian yang kedua adalah ketika saya terlupa membawa kartu memori untuk kamera DSLR saya, Rajja salah satu delegasi dari India meminjamkan saya kartu memorinya karena dia memang memiliki lebih dari satu dan punya hobi fotografi. Setelah selesai Welcoming Dinner pun saya juga bersama teman-teman yaitu pepi, Hu dan David (delegasi dari China) berkeliling seputaran lokasi hotel Realm, berfoto-foto di malam hari serta saling mengunjungi kamar masing-masing. Teman-teman ini betul-betul sempat membuat saya terharu karena ketika kami saling bertukar souvenir masing-masing, teman kami Hu sempat hampir menitikkan air mata. Hu bagi kami adalah teman yang baik, lucu, dan juga cerdas. Demikian pula dengan Rajja yang pada akhirnya juga memberikan kartu memorinya untuk saya sekaligus sebagai kenang-kenangan.

 


Cerita ketiga adalah tentang fasilitas kamar yang kami dapatkan. Bagi saya ini adalah sesuatu yang unik, karena ketika berkunjung ke kamar teman-teman, ternyata suasana kamar saya dan pepi ( (Room Mate) kebetulan mendapatkan kamar apartement yang memiliki fasilitas sangat lengkap dan ruangan yang besar. Suasana kamar ini cukup berbeda dengan kamar Rajja dan Hu yang pernah kami kunjungi. Saya juga mempersilahkan mereka untuk berkunjung ke kamar dan saling bercerita satu sama lain

 

Nama: Amrina Alhumaira
Tgl Lahir: 13 September 1993
Mahasiswa S1 Jurusan Pendidikan Kimia, UIN Syarif Hidayatullah
Asal Daerah: Bekasi, Kabar

 

Staying at a farmer’s house for a few days in Sragen and attending Youth-Ag Summit in Canberra were priceless experience because there were many things I have learned. Started with staying at one of farmer’s house in Sragen, it changed my paradigm of agriculture that farming is not even close to for-old-people-only job, that Indonesian farmers need regeneration, that is not easy to be a farmer but it is worth it to be a farmer, that everyone needs farmer to fill their table with food, and that sustainability of food is still far to reach in Indonesia. It is not the end, because attending Youth-Ag Summit in Canberra for about five days told me that those previous problems are only a few problems of food security all around the world.

 


Knowing all of those food security problems made me think that I am a helpless because I do not come from agricultural background, either my education or my family. I do not live in around people that aware of food security and people who know where their food comes from. But then, I know I am not alone, I am not the one who want to make a change of food problem that do not come from any agricultural background. I am so glad to meet so many new people from various backgrounds in Youth-Ag Summit. I got so many knowledge to be applied in my life easily to start to think that everyone can be part of global hunger saver, knowledge to be told to my surroundings that we can provide food in 2050 by reducing food waste started with ourselves, and knowledge to be learned more about things that food security is also related to many things, not only agriculture, but also all of sector of life.

 

link2